JAKARTA – Minat perusahaan mencatatkan saham di pasar modal di tahun ini masih tinggi seiring dengan optimisme pemulihan ekonomi dan berjalannya vaksin Covid-19. Salah satu perusahaan yang berniat mencatatkan sahamnya di pasar modal atau initial public offering (IPO) adalah PT Ulima Nitra Tbk. Perseroan melalui aksi korporasi tersebut menargetkan perolehan dana sekitar Rp35,4 miliar.
Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek adalah PT Surya Fajar Sekuritas dan jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO ini adalah mencapai 300 juta unit dengan harga penawaran Rp118 per saham. Selain melakukan IPO, perusahaan menyelenggarakan program employee stock allocation (ESA) sebanyak 9,62 juta saham atau 3,21% dari saham yang ditawarkan. Bersamaan dengan penawaran umum perdana, perseroan akan menerbitkan saham baru dalam rangka konversi utang senilai Rp40 miliar.
Baca Juga: BEI Sambut 3 Unicorn IPO Tahun Ini
Konversi utang ini dilakukan kepada PT Surya Fajar Capital sebanyak 233,05 juta saham dan PT Surya Fajar Corpora sebanyak 105,93 juta saham. Konversi ini setara dengan 10,8% dari total modal yang disetorkan. Sedangkan masa penawaran umum pada 2-4 Maret 2021, distribusi secara elektronik pada 5 Maret 2021 dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Maret 2021. Penawaran umum saham ini dilakukan secara elektronik. Ulima Nitra adalah perusahaan di bidang jasa pertambangan dan jasa sewa menyewa peralatan pertambangan yang berlokasi di Palembang.
Baca Juga: 27 Calon Emiten Antre untuk IPO
Sesuai rencana, perseroan berencana menggunakan dana IPO untuk modal kerja seperti biaya bahan bakar (oil and fuel), biaya perawatan (service) ringan dan suku cadang. Selain itu, dana IPO juga akan digunakan untuk biaya lain-lain guna mendukung kegiatan operasional perusahaan. Selain Ulima Nitra, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, ada 27 perusahaan yang berencana melakukan IPO saham tahun ini. Sebanyak 21 dari 27 perusahaan tersebut merupakan perusahaan dengan skala aset menengah ke atas.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan, berdasarkan pipeline BEI per 26 Februari 2021, ada 27 perusahaan yang masih menjalani proses evaluasi pencatatan saham. "Namun, kami bisa menyampaikan nilai estimasi fund-raised IPO yang di atas Rp1 triliun karena belum terbentuk harga penawaran," jelas dia dilansir dari Harian Neraca, Selasa (2/3/2021).