Sojitz Bawa Duit Rp71,5 Triliun untuk Teluk Bintuni

Ferdi Rantung, Jurnalis · Sabtu 13 Maret 2021 11:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 13 320 2377102 sojitz-bawa-duit-rp71-5-triliun-untuk-teluk-bintuni-W2MXKnbDgZ.jpeg Menperin Agus Gumiwang. (Foto: Okezone.com/Kemenperin)

JAKARTA - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bertemu dengan perusahaan industri kimia Sojitz Corporation untuk membahas pengembangan industri methanol di Indonesia. Hal ini dilakukan dalam rangka kunjungan kerja ke ke Tokyo, Jepang.

“Dalam pertemuan tadi, Sojitz menyatakan ketertarikan untuk mengembangkan industri methanol dan ammonia di Kawasan Industri Teluk Bintuni yang akan menyerap investasi sekitar USD5 miliar (setara Rp71,5 triliun dengan kurs Rp14.300/USD),” ujar Menperin dalam keterangan resminya, Sabtu (13/3/2021).

Baca Juga: Pelaku Usaha Lokal Diminta Gercep Gaet Investor Global

Pada pertemuan dengan Presiden dan CEO Sojitz Corporation Mr Fujimoto Masayoshi, Menperin menyampaikan bahwa proyek Bintuni masuk sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), sehingga akan memperoleh kemudahan serta berbagai insentif dari Pemerintah.

“Proyek petrokimia di Teluk Bintuni akan menjadi yang terbesar dengan luas sekitar 2.000 Hektare. Kami akan membahasnya lebih lanjut pada kunjungan selanjutnya di bulan Mei mendatang,” jelasnya.

Bisnis Sojitz Corporation di Indonesia meliputi perusahaan Kaltim Methanol Industri (KMI) di Bontang, Kalimantan Timur yang merupakan satu-satunya produsen methanol di Indonesia. Perusahaan tersebut berkapasitas produksi 660.000 metrics ton per tahun. “Dengan kebutuhan methanol di dalam negeri yang mencapai sekitar dua juta ton, pembangunan pabrik methanol baru amat dibutuhkan,” jelas Menperin.

Baca Juga: Gebrakan Menko Airlangga: Bikin 3 Jembatan Pacu Investasi Singapura ke RI!

Bahan baku methanol sangat dibutuhkan, antara lain dalam industri tekstil, plastik, resin sintetis, farmasi, insektisida, plywood. Metanol juga sangat berperan sebagai antifreeze dan inhibitor dalam kegiatan migas. Selain itu, methanol juga merupakan salah satu bahan baku untuk pembuatan biodiesel.

“Di tahun 2020, permintaan akan methanol juga meningkat dengan penerapan mandatory biodiesel B30,” ujar Menperin.

Guna merealisasikan proyek pembangunan pabrik methanol kedua tersebut, diperlukan dukungan penuh kedua Pemerintah dalam pengembangan industri petrokimia di Bintuni. Kawasan industri ini dikembangkan secara multiyear dengan menggunakan KPBU (Kerjasama Pemerintah Badan Usaha).

Pembangunan infrastruktur di kawasan tersebut ditargetkan bisa dilaksanakan pada tahun ini dan dilanjutkan pembangunan pabrik-pabrik pada 2022, sehingga tenant bisa mulai berproduksi pada 2024.

Pada kesempatan tersebut, Menperin juga mengundang Sojitz untuk berinvestasi pada industri soda ash sebagai hilirisasi dari ammonia, di samping sebagai pengurangan emisi CO2 pada pembakaran batubara yang akan dikembangkan oleh Sojitz. “Pemerintah akan memberikan insentif tertentu bagi industri pioner seperti soda ash,” ujar Menperin.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini