Kebakaran Kilang Minyak Balongan, Penyaluran Gas 10 MMSCFD Terhenti

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Selasa 30 Maret 2021 16:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 30 320 2386592 kebakaran-kilang-minyak-balongan-penyaluran-gas-10-mmscfd-terhenti-w3iie7EKQ8.jpg Kilang Balongan (Okezone)

JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat insiden kebakaran dan meledaknya Kilang Refinery Unit (RU) VI atau Balongan berdampak pada penghentian penyaluran gas dari Offshore North West Java (ONWJ) sebesar 10 juta Standar Cubic Feet per Day (MMSCFD) atau Standar Kaki Kubik per Hari.

ONWJ sendiri biasanya digunakan untuk Pertamina untuk mengoperasikan kilang minyak. Dampak itu seiring dengan adanya penghentian pengaliran yang diperkirakan akan berlangsung selama 1 minggu kedepannya.

Baca juga: Kilang Minyak Balongan Meledak, Pemadaman Tanki Diperkirakan 5 Hari

"Insiden Balongan berdampak pada penghentian penyaluran gas dari ONWJ sebesar 10 mmscfd, yang biasanya digunakan untuk operasional Kilang. Dari koordinasi SKK Migas dengan Pertamina, penghentian pengaliran diperkirakan akan berlangsung selama 1 minggu," ujar Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Susana Kurniasih, Selasa (30/3/2021).

Meski begitu, SKK Migas mencatat, dari upaya mitigasi yang dilakukan, dampak kebakaran kilang Balongan tidak berdampak pada produksi minyak di Indonesia. Sebab, hulu migas memiliki tangki yang cukup untuk menampung produksi-produksi BBM tersebut. "Sehingga berdasarkan perkiraan awal, hulu migas tidak terganggu," katanya.


Baca juga: Kilang Balongan Meledak, Posko Kesehatan Pertamina Rujuk 6 Pasien ke RSPP

Pertamina juga telah menyampaikan bahwa minyak-minyak yang biasanya diolah di Balongan akan dialihkan ke kilang-kilang milik perseroan lain di Indonesia antara lain Cilacap.

"Selama ini kilang Balongan menerima minyak dari beberapa lapangan di Indonesia, antara lain dari Jatibarang (PEP), Cinta (PHE ONWJ ), Duri dan Minas (CPI), Banyu Urip (EMCL)," tutur dia.

Menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, selama proses investigasi berlangsung akan mempengaruhi proses produksi, khususnya untuk Refinery Development Master Plan (RDMP) atau perubahan kilang lama 2025. Meski begitu, hambatan ini hanya terjadi dalam jangka pendek saja.

"Mungkin dalam jangka pendek untuk keperluan investigasi pekerjaan RDMP-nya, mungkin akan tertunda sambil investigasi itu dilakukan. Tapi saya kira jika penundaan tidak lama, proyeknya itu akan jalan terus sehingga di tahun 2025 diharapkan kilang Pertamina bisa menghasilkan bahan bakar dengan kualitas yang bagus," ujar Febby saat dihubungi MNC Portal Indonesia.

Kilang RU VI sendiri ditargetkan mampu meningkatkan kapasitas produksi Light Distillate Section dari 125 million barrel stream per day (MBSD) menjadi 150 MBSD. Selain itu, dengan melakukan revamping unit Crude Distilling Unit (CDU), maka akan meningkatkan fleksibilitas CDU untuk memproses minyak mentah campuran berat (Heavy Mix Crude) ataupun minyak mentah ringan (Lighter Crude Oil).

Dengan peningkatan kapasitas produksi minyak dan fleksibilitas kilang RU VI tersebut, maka dapat meningkatkan margin untuk perusahaan dan ketahanan energi nasional.

Pembangunan RDMP Phase 1 sendiri dikerjakan oleh Konsorsium RRE yang terdiri dari PT Rekayasa Industri, PT Rekayasa Engineering, dan PT Enviromate Technology International.

"Kilang itu untuk bisa lebih fleksibel, rencananya dengan modernisasi kilang itu, bisa mengolah atau menghasilkan produk BBM yang juga berbeda dengan yang sekarang. Jadi dia diharapkan bisa menghasilkan produk BBM yang lebih variatif sesuai dengan kebutuhan. Selain gasoline, nafta dan lain-lain, itu semua untuk meningkatkan nilai tambah dari hasil kilang," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini