Ketika Erick Thohir Khawatir dengan Kondisi BUMN dan Akhirnya Punah

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Rabu 07 April 2021 14:36 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 07 320 2390840 ketika-erick-thohir-khawatir-dengan-kondisi-bumn-dan-akhirnya-punah-pfBS60nRPr.jpg Erick Thohir (Foto: Dok BUMN)

JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengaku, khawatir terhadap posisi perseroan negara saat ini. Kekhawatiran itu perihal tuntutan digitalisasi dalam dunia bisnis saat ini.

Digitalisasi menuntut adanya perubahan paradigma dan penyesuaian para pelaku bisnis. Erick melihat, perubahan itu terjadi secara cepat dan harus diantisipasi.

Di berbagai sektor bisnis swasta, seperti perbankan hingga manufaktur, penyesuain perubahan sudah dilakukan. Karena itu, langkah serupa juga perlu dilakukan secara cepat oleh manajemen BUMN. Jika tidak, maka perseroan plat merah akan punah

"Kita juga melihat bagaimana pabrik-pabrik manufaktur itu akan menuju ke digitalisasi. Inilah yang sangat dikhawatirkan saya secara pribadi, ketika BUMN-nya tidak siap mentransformasikan, maka BUMN-nya punah. Karena kalah di persaingan," ujar Erick dalam konferensi pers, usai pelantikan Forum Human Capital Indonesia (FHCI), Rabu (7/4/2021).

Baca Juga: Erick Thohir Sebut BUMN Punah Sangat Membahayakan Ekonomi RI 

Mantan Bos Inter Milan itu menegaskan, langkah terobosan dan proses transformasi baik di Kementerian BUMN dan Perusahaan negara tetap dilakukan. Salah satunya adalah menguatkan sumber daya manusia (SDM) atau human capital. Dengan Penguatan SDM, maka diyakini mampu merubah paradigma lama menuju era digitalisasi.

"Karena itu, kami kenapa membuat terobosan hari ini, tidak hanya kementerian, tapi juga forum human capital yang ini merupakan komunitas insan BUMN, harus terjadi percepatan paradigma dan bagaimana perubahan-perubahan ini harus diantisipasi," katanya.

Erick sendiri sudah merampingkan 142 BUMN menjadi 41 perusahaan. Sedangkan jumlah klaster yang tadinya tercatat ada 27 dikurangi menjadi 12. Langkah perampingan BUMN dan clusternya dicatat sebagai upaya transformasi perseroan negara.

"Transformasi menjadi agenda penting. Kementerian BUMN sedang merampingkan portofolionya saat ini. Kami telah berhasil mengurangi jumlah perusahaan dari 142 menjadi 41. Dan juga, saat ini kami sedang melakukan pengurangan jumlah cluster dari 27 menjadi 12 perusahaan," tutur dia.

Upaya efisiensi portofolio BUMN tersebut membawa pemegang saham BUMN memperoleh aset sebesar 650 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 9.100 triliun (kurs Rp14.000 per dolar).

Jumlah aset BUMN tersebut diyakini Erick akan memberi kontribusi besar bagi pembangunan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Dengan begitu, misi Kementerian BUMN untuk menghasilkan nilai ekonomi dan sosial bagi Indonesia bisa terealisasikan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini