Indeks Manufaktur RI Naik 53,2 Berkat PPnBM, Menperin: Ini Tertinggi

Ferdi Rantung, Jurnalis · Jum'at 09 April 2021 14:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 09 320 2391983 indeks-manufaktur-ri-naik-53-2-berkat-ppnbm-menperin-ini-tertinggi-n6iiiy5I9r.jpg Indeks Manufaktur Meningkat. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia berada di level 53,2 pada Maret 2021. Angka tersebut meningkat sebesar 2,3 poin dari Februari 2021 yang sebesar 50,9.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, PMI bisa berada dalam level tersebut dikarenakan kebijakan dari Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

Baca Juga: Menko Airlangga: Kenaikan Indeks Manufaktur Momentum Pemulihan Ekonomi

"Menurut pandangan kami kebijakan PPnBM ini memberikan kontribusi yang besar sekali bagi naiknya PMI kita pada bulan Maret dan 53,2 ini sejarah karena PMI kita ini tertinggi," katanya dalam konferensi pers, Jumat (9/4/2021)

Dia memaparkan, selama 6 bulan terakhir PMI Indonesia berada di level ekspansif. Hal ini tentu bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: PMI Manufaktur Indonesia Sentuh Rekor Tertinggi dalam 10 Tahun

Agus memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I tidak jauh dari posisi netral.

"Pertumbuhan ekonomi pada Q1 kalau pun tidak bisa positif saya yakin tidak akan terlalu jauh dari posisi netral. Tidak terlalu jauh itu misalnya minus 0,5% ini prediksi saya, mudah - mudahan bisa positif walaupun tidak bisa ya tidak akan jauh dari posisi netral," terangnya.

Dia menambahkan, relaksasi ini bukan untuk mendorong penjualan saja, namun juga mendorong local purchase. Hal ini bertujuan untuk memberikan dampak positif bagi komponen pendukung industri otomotif.

"Ini juga memberikan sinyal kepada pelaku industri otomotif karena ini bisa dijadikan presiden dimana kita mendorong industri itu tumbuh lebih cepat karena industri otomotif itu pendukung sangat besar," ujarnya.

Untuk itu, Agus mendorong agar para produsen otomotif di Indonesia meningkatkan local purchase atau kandungan lokal. Sebab tidak menutup kemungkinan ada ada kebijakan yang sama di masa yang akan datang.

"Kita gak tau beberapa tahun kedepan setelah kebijakn ini berakhir kita bisa merumuskan kebijakan yang sama. Jangan sampai ada produsen otomotif yang ketinggalan kereta karena tidak mau melakukan local purchase lebih besar di Indonesia," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini