Pedoman Rasulullah dalam Berbisnis, Kejujuran Dapat Memunculkan Integritas Perusahaan

Fariza Rizky Ananda, Jurnalis · Kamis 06 Mei 2021 03:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 04 455 2405183 pedoman-rasulullah-dalam-berbisnis-kejujuran-dapat-memunculkan-integritas-perusahaan-P4Qo4LKsk5.jpg Al-Quran (Foto: Ilustrasi Freepik)

JAKARTA – Soul marketing merupakan pengembangan dari cara berdagang yang dilakukan Nabi Muhammad. Sehingga dengan melakukan konsep ini, kegiatan bisnis akan penuh dengan muatan etika dan moral yang berakar pada ajaran al-Quran dan Sunnah.

Berdasarkan buku Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, Kamis (6/5/2021), soul marketing diawali dengan sikap jujur dan harus selalu diutamakan, karena setiap perusahaan pasti menginginkan pelanggannya setia, sedangkan untuk bisa setia maka kepercayaan harus dibentuk dengan sikap jujur.

Baca Juga: Prinsip-Prinsip Berdagang yang Baik Sesuai Petunjuk Nabi Muhammad SAW

Kejujuran memang bukan alat untuk menciptakan keuntungan yang cepat, karena jika pengusaha ingin cepat untung malah biasanya enggan untuk jujur dengan sungguh-sungguh. Hanya karena tergiur untuk mendapatkan keuntungan dengan cepat, pengusaha biasa menebar janji palsu dan omong kosong.

Misalnya sebuah produk yang kualitasnya biasa-biasa saja dibungkus dengan strategi promosi yang hanya menonjolkan sisi baiknya saja mungkin bisa membuat barang cepat laku, namun itu tidak bisa membentuk kepercayaan yang hakiki karena konsumen tidak selamanya bisa dibohongi.

Baca Juga: Kunci Sukses Promosi Ala Nabi Muhammad SAW, Menghindari Sumpah Berlebihan

Pengusaha yang seperti itu jangan harap konsumen akan kembali melakukan transaksi. Selain itu, konsumen akan selalu ingat saat dia dikecewakan dan selalu bercerita dan memberi rekomendasi kepada komunitas, keluarga, dan teman-temannya.

Kejujuran menciptakan integritas dari pihak produsen. Jika pengusaha menjelaskan kelebihan dan kekurangan produk, integritaslah yang sesungguhnya dia jual kepada konsumen. Rasulullah pernah bersabda, “Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualannya yang mempunyai aib, sebelum dia menjelaskan aibnya” (HR. al-Quzuwaini).

Tentu saja pengusaha memiliki batasan dalam sikap jujurnya, yaitu sikap murah hati saat menjawab. Konsumen jangan terlalu banyak melontarkan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan produk yang ditawarkan, sedangkan penjual pun apabila tidak ditanya jangan merasa enggan untuk menjelaskan yang menyangkut kepentingan konsumen.

Nabi Muhammad bersabda, “Saudagar yang jujur dan dapat dipercaya akan dimasukkan dalam golongan para nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada” (HR. Tirmidzi). Selain itu, kejujuran juga bisa dilihat dari kegiatan marketing yang dilakukan perusahaan.

Seorang pengusaha atau pebisnis tidak lepas dari kegiatan marketing yang mengumbar janji kepada konsumen. Janji merupakan ucapan yang menunjukkan kesanggupan atau kesadaran untuk berbuat sesuatu. Sebuah janji berhubungan erat dengan kepercayaan konsumen.

Sebuah ucapan harus sejalan dengan perbuatan. Ucapan yg menjadi janji harus selaras dengan langkah-langkah yang diambil oleh perusahaan. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran, “Kalau kamu berlaku adil dalam ucapan, ucapkanlah (ukurlah ucapan itu) tempatkan pada tempatnya. Kalau tidak pada tempatnya jangan berjanji.”

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini