Journey with BCA

Agustina Wulandari , Jurnalis · Jum'at 07 Mei 2021 14:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 07 11 2407170 journey-with-bca-kgcbhBpV8T.jpeg Webinar Journey with BCA. (Foto: Dok.BCA)

PT BCA (Bank Central Asia Tbk) sukses menggelar webinar Journey with BCA di expo virtual “BCA UMKM Fest 2021”. Salah satu kegiatan yang menjadi magnet adalah webinar BCA UMKM Fest bersama para pakar wirausaha dan perbankan Indonesia.

Beragam tema menarik disuguhkan salah satunya webinar ‘Journey with BCA’ bersama Billy Hartono Salim. Direktur Utama Victoria Care Indonesia ini berbagi kisah seputar perjalanannya dalam membangun brand Herborist dan juga Miranda. Jatuh bangun dan asam garam sudah ia lewati. Bahkan, salah satunya adalah cerita pilihan partner finansial, cerita bersama BCA.

“Saya mulai merintis bisnis pada tahun 1985 hanya dengan lima orang karyawan saja dan kini kami sudah memiliki 2.500 karyawan,” tutur Billy.

33 tahun, kata Billy, adalah perjalanan yang terbilang panjang. Beragam ujian telah dihadapi, sejak krisis moneter 1998 yang hampir meruntuhkan bisnisnya.

“Saya tidak bisa membayar prinsipal, kala itu kami belum memiliki pabrik. Situasi begitu sulit, tetapi saya punya komitmen untuk menjaga reputasi dan kepercayaan, dan syukur dalam waktu dua tahun kami bisa menyelesaikannya,” ujarnya.

Peran BCA sendiri dalam bisnisnya sangat penting, bank swasta terbesar di Indonesia tersebut sudah dikenal Billy sejak 25 tahun silam, bahkan BCA membiayai investasi pabrik miliknya di Semarang.

“BCA memiliki beberapa kelebihan, cabangnya tersebar di Indonesia, inovasi produk dan teknologinya canggih sekali, payroll BCA juga membantu handle 2.500 karyawan kami, bunga kreditnya pun tidak mahal. Customer relationship-nya juga sangat bagus. Saya berharap BCA terus melanjutkan apa yang sudah dilakukan saat ini dan improve lagi,” katanya.

Baca Juga: Ini Alasan Kenapa Kamu Wajib Gabung BCA UMKM Fest

Ia juga menuturkan, bank memiliki peran penting untuk membantu perkembangan usaha atau bisnis, terlebih untuk para pelaku UMKM.

“Saya dulu melangkah hanya dengan lima orang. Dengan bertambahnya turn over, kita tidak bisa mengatasi dengan modal sendiri. Kebetulan saya bisnis modal dengkul sendiri bukan warisan orangtua. Jadi, sumber kredit dari perbankan adalah solusi tepat untuk membantu kita,” ucapnya.

Lebih lanjut Billy menuturkan, pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia sejak awal Maret 2020 tidak hanya menjadi problem besar di bidang kesehatan, namun memberikan dampak signifikan pada bidang lainnya, khususnya di bidang ekonomi. Namun, berkat budaya 3 S (Smart, Speed, dan Simple) yang diusung Billy membuat omzet perusahaannya naik.

“Saat pemerintah mengumumkan pandemi Covid-19 pada Maret 2020, kami sudah mengetahui apa yang akan terjadi. Saya ingat persis pada Februari tahun lalu, kami mendapat order dari buyer, yakni produk hand sanitizer sebanyak satu kontainer, singkat kata order dibatalkan, tetapi saya punya pemikiran pasti pandemi ini akan masuk ke Indonesia dan produk ini akan menjadi sangat vital,” ungkapnya.

Selepas menyaksikan perayaan Cap Go Meh bersama Kepala Cabang BCA di Singkawang, ia langsung mengumpulkan seluruh jajaran direksi untuk meeting, terlebih ia mendengar kabar dari kakak iparnya Hongkong dan Wuhan sudah lockdown.

“Pada Maret 2020 lalu, saya mengambil beberapa keputusan yang sangat penting, contoh saya rilis hand sanitizer ukuran 5 liter. Saat itu hand sanitizer seperti emas dan menjadi barang langka,” tuturnya.

Dia mengisahkan, pada awal pandemi berkomitmen menyumbangkan ribuan jirigen kepada Pemerintah Daerah, Puskesmas, rumah sakit di Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, hingga Bali.

“Ini menjadi CSR kami. Di tengah kesulitan, kami meraih kenaikan sales, tetapi kami tidak memanfaatkan situasi. Kita harus smart mengambil peluang, menuntaskan masalah dengan speed, birokrasi kita sederhanakan (simple). Pada akhir Desember 2020 penjualan kami tumbuh 31 persen dibanding tahun lalu,” katanya.

Billy pun bertekad ingin menjadikan Victoria Care Indonesia sebagai perusahaan komestik dan perawatan tubuh terbaik di kawasan Asia.

“Sebelum pandemi, kami sudah berhasil masuk ke market Jepang, Malaysia, Timur Tengah, kami juga sudah persiapkan untuk masuk ke pasar Tiongkok,” ujarnya.

Menutup pembicaraan, Billy membagikan tips kepada pelaku UMKM agar tetap survive, yakni fokus kepada produk yang dijual, jangan malu melakukan ATM (Amati, Tiru, Modifikasi), konsisten, dan tak henti berinovasi.

“Tak kalah penting, jangan patah semangat, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Melakukan evaluasi kalau produk kita kurang laku. Saya bisa seperti ini karena memiliki sikap ulet,” ucapnya.

Sebagai informasi dalam kegiatan ini, BCA memberikan kesempatan bagi pelaku industri kreatif skala UMKM, untuk memasarkan produk unggulannya, mengikuti business matching dengan ratusan buyer dari luar negeri, dan serangkaian kegiatan edukatif lainnya. Selain itu, para pengunjung bisa mendapatkan ribuan produk unggulan karya anak bangsa, beragam promo, dan solusi perbankan sesuai kebutuhan.

CM

(yao)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini