6 Fakta Elon Musk Kulik Dogecoin, Cek Dulu Investasi Jenis Kripto Ini

Fariza Rizky Ananda, Jurnalis · Sabtu 15 Mei 2021 06:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 14 320 2410248 6-fakta-elon-musk-kulik-dogecoin-cek-dulu-investasi-jenis-kripto-ini-v7qA4CL5g6.jpg Bitcoin (Reuteurs)

JAKARTA - Saat ini, investasi dalam bentuk cryptocurrency atau dikenal dengan aset kripto semakin marak di Indonesia, terutama di kalangan muda. Salah satu jenis kripto yang terkenal adalah dogecoin.

Berikut beberapa fakta mengenai dogecoin dan cryptocurrency dirangkum Okezone, Sabtu (15/5/2021).

1. Elon Musk Sempat Mengulas Dogecoin

Dilansir dari CNBC, Minggu (9/5/2021), jenis koin ini terkenal mempunyai nilai yang amat tinggi karena CEO Tesla mengulasnya beberapa waktu lalu. Harga Dogecoin sejak bulan lalu telah melambung sebesar 60 sen, sehingga banyak orang tertarik untuk membelinya.

2. Mencurigai gelembung tidak akan membantu investor kripto

Gelembung terjadi ketika harga barang jauh melebihi nilai aslinya. Mereka yang mempertimbangkan untuk membeli dogecoin mungkin tahu bahwa biaya token digital, yang naik lebih dari 12.000% sepanjang tahun, tidak didukung oleh lebih dari harapan bahwa itu akan terus menjadi lebih mahal.

Spekulasi tersebut yang memicu gelembung. Tetapi mengetahui bahwa dogecoin belum benar-benar menjadi produk yang jauh lebih berharga selama setahun terakhir tidak mungkin mencegah orang mencoba memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan, kata para ahli.

Mereka semua percaya bahwa mereka bisa keluar sebelum gelembung itu jatuh. Namun, pada dasarnya semua investor pasti akan berpikir seperti itu.

“Pada saat sebagian besar investor individu memasuki investasi yang meningkat, seringkali sudah terlambat,” kata Kent Baker, seorang profesor keuangan di American University.

2. FOMO (Fear of Missing Out) bisa jadi bumerang bagi investor kripto

Investor sering menjadi mangsa bias sosial dari penggiringan. Dengan kata lain: mereka melakukan apa yang dilakukan orang banyak, percaya bahwa setiap orang harus tahu lebih banyak daripada yang mereka lakukan. Dan keamanan dalam angka.

"Umumnya, investor seperti itu salah dalam kedua hal tersebut," ujar Kent Baker.

3. Investor tidak bisa mengetahui nilai kripto sebenarnya

Dalam saham, investor diberitahu rasio harga terhadap pendapatan, berapa banyak yang dibayar investor untuk perusahaan dari pendapatannya. Angka itu dapat membantu menentukan apakah sebuah perusahaan sudah over atau undervalued. Beda halnya dengan dogecoin.

"Kenaikan cryptocurrency mengingatkan pada tahap awal gelembung internet dengan investor mencoba mengevaluasi saham tanpa pendapatan," kata Bruce Mizrach, seorang profesor ekonomi di Sekolah Seni dan Sains Rutgers.

Mempertimbangkan semua ketidakpastian ini, para ahli mengatakan orang tidak boleh berinvestasi lebih banyak pada dogecoin daripada yang mereka mampu untuk kehilangan.

Baca juga: Ada Bursa Crypto Indonesia, Wamendag: Beri Kepastian Hukum dan Jaminan Transaksi

4. Ingat, kripto bukan alat pembayaran yang sah di Indonesia

Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot mengatakan aset kripto merupakan jenis komoditi, bukan sebagai alat pembayaran yang sah.

"OJK telah berkoordinasi dengan Bank Indonesia sebagai otoritas pembayaran dan menyatakan bahwa mata uang kripto bukan merupakan alat pembayaran yang sah di Indonesia," kata Sekar di Jakarta, Rabu (12/5/2021).

5. Pahami risikonya, pengawasan tidak dilakukan OJK melainkan Bappebti

Aset kripto termasuk komoditi yang memiliki fluktuasi nilai yang sewaktu-waktu dapat naik dan turun sehingga masyarakat harus paham dari awal potensi dan risikonya sebelum melakukan transaksi aset kripto.

"OJK tidak melakukan pengawasan dan pengaturan atas aset kripto ya, melainkan oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan @bappebti @kemendag.," katanya

6. Kripto adalah Aset yang Tidak Berwujud

Sebagai informasi, pada peraturan Bappebti No 5/2019, crypto asset yang selanjutnya disebut aset kripto adalah komoditi tidak berwujud yang berbentuk digital aset, menggunakan kriptografi, jaringan peer-to-peer dan buku besar yang terdistribusi, untuk mengatur penciptaan unit baru, memverifikasi transaksi, dan mengamankan transaksi tanpa campur tangan pihak lain

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini