5 Fakta Ekspor Produk UMKM RI Kalah dari Malaysia

Giri Hartomo, Jurnalis · Minggu 16 Mei 2021 05:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 15 320 2410487 5-fakta-ekspor-produk-umkm-ri-kalah-dari-malaysia-451LFikta2.jpeg Ekspor-Impor Perdagangan di Pelabuhan (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Pemerintah saat ini terus mendorong ekspor dan pengembangan produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Mengingat, saat ini produk-produk UMKM Indonesia masih kalah dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia bahkan Thailand.

Misalnya saja ekspor produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia masih stagnan di angka 19%. Persentase ekspor tersebut tidak mengalami kenaikan pasti selama beberapa tahun belakangan.

Ada sejumlah fakta menarik dari masih kalahnya ekspor produk UMKM Indonesia dari

Baca Juga: Jadi 'SPBU' Mini, UMKM Bakal Jual Pertalite Cs

1. Ekspor Produk UMKM RI Masih Stagnan

Ekspor produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia masih stagnan di angka 19%. Persentase ekspor tersebut tidak mengalami kenaikan pasti selama beberapa tahun belakangan.

2. Ketinggalan dari Malaysia

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat, jika dibandingkan dengan negara-negara Asean, Indonesia masih tertinggal jauh. Wakil Direktur Indef, Eko Listiyanto mencatat, persentase produk usaha mikro di Malaysia berada di angka 20%. Sementara Thailand mendekati 30%.

"Dilihat secara produktif kelihatan ya, dari ekspor begitu, Indonesia masih tertinggal dibandingkan Malaysia dan Thailand. Sekitar 15% porsi UMKM untuk ekspor, itu Malaysia sudah mendekati 20%. Sementara Thailand sudah mendekati angka 30%," ucapnya.

Baca Juga:  Akhirnya, BLT UMKM 2021 Tahap Kedua Cair untuk 9,8 Juta Penerima

3. Penyebab Ekspor Produk UMKM RI Keok dari Malaysia dan Thailand

Indef memang tertarik melihat sebab utama ekspansi bisnis UMKM di sejumlah negara. Khusus Malaysia, dari pengamatan Indef, salah satu faktor fundamental yang mendorong kinerja usaha mikro negara setempat adalah upaya pengembangan ekosistem. Dimana, otoritas setempat memperkuat level pembiayaan dan pembinaan bagi pelaku usaha.

"Jadi kita jauh tertinggal, jadi saya tertarik melihat seperti apa Thailand dan Malaysia dalam membangun UMKM begitu. Ya salah satunya kalau Malaysia membangun ekosistem untuk UMKM, jadi baik dalam level pembiayaan dan pembinaan, itu juga dilakukan secara intensif, sehingga wajar kemudian mereka mampu naik kelas dan ekspansi bisnisnya hingga sampai ke ranah ekspor," kata Eko Listiyanto.

4. Kredit Jadi Salah Satu Produk UMKM Malaysia Ungguli RI

Aspek kredit pun menjadi instrumen lain dari pengembangan UMKM Malaysia. Di negara setempat, angka kredit perbankan berada di level 50%. Persentase itu naik signifikan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sementara, di Indonesia masih berada di level 19-20%. Eko menilai, dukungan pembiayaan untuk UMKM mampu mendorong kinerja usahanya.

5. Holding Ultra Mikro Jadi Langkah Tepat

Meski demikian, dia tidak menafikan, upaya transformasi Kementerian BUMN dengan menghadirkan Holding Ultra Mikro dinilai langkah tepat untuk membuat roda UMKM bergeliat. Holding tersebut merupakan sinergi antara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini