Pecah Rekor, Indeks Manufaktur RI Tertinggi di Asean

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Rabu 02 Juni 2021 15:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 02 320 2418948 pecah-rekor-indeks-manufaktur-ri-tertinggi-di-asean-zgeeT5ljaG.jpg Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Sektor manufaktur Indonesia mengalami peningkatan pada Mei 2021. Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia mencetak rekor dan menembus level 55,3 pada bulan Mei.

Pencapaian tersebut mengalami kenaikan yang signifikan dibanding bulan April yang berada di posisi 54,6. Di mana hal tersebut mencerminkan sektor industri sedang ekspansif.

Posisi ekspansi tersebut ditandai dengan permintaan baru, output, dan pembelian yang naik pada tingkat yang belum pernah terjadi selama 10 tahun sejarah survei. Bahkan, aspek ketenagakerjaan kembali tumbuh setelah 14 bulan untuk memenuhi kebutuhan kapasitas operasional yang semakin meningkat.

Baca Juga: Revolusi Industri 4.0, Manufaktur RI Bakal Terdongkrak dengan Robot

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan syukur dan terima kasih kepada para pelaku industri di tanah air yang masih agresif menjalankan usahanya di tengah dampak pandemi Covid-19 saat ini.

“Kami bertekad untuk terus menciptakan iklim bisnis yang kondusif melalui berbagai kebijakan strategis,” ujarnya.

Baca Juga: Menperin Pacu Produktivitas Industri demi Pulihkan Ekonomi

Perlu diketahui, PMI manufaktur Indonesia pada bulan kelima tahun ini di atas PMI manufaktur ASEAN yang berada di level 51,8. Di tingkat regional ini, PMI manufaktur Indonesia mengungguli PMI manufaktur Vietnam (53,1), Malaysia (51,3), Singapura (51,7), Filipina (49,9), dan Thailand (47,8). Bahkan, PMI manufaktur Indonesia juga memimpin dibanding PMI manufaktur Korea Selatan (53,7), Jepang (53,0), China (52,0), dan India (50,8).

Lanjutnya ia menegaskan bahwa pencapaian kinerja gemilang dari sektor industri tersebut merupakan buah dari kebijakan yang sudah berada di jalur yang benar (on the right track). Selain itu, kebijakan insentif yang telah digulirkan pemerintah tidak hanya memberikan fasilitas kepada pelaku usaha, namun juga mampu membentuk demand dari masyarakat, sehingga penggunaan produk industri nasional dapat pasar kembali.

Contohnya adalah pemberian insentif fiskal berupa penurunan tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP), yang telah berhasil meningkatkan penjualan kendaraan bermotor roda empat (KBM-R4) hingga 150%.

“Pemerintah terus menjaga momentum baik ini agar PMI manufaktur Indonesia tetap di atas 50 yang menunjukkan bahwa industri manufaktur kita sedang ekspansif. Oleh karena itu, kami akan terus menyelaraskan dan memperkuat kebijakan terutama terkait dengan masalah lama waktu pengiriman bahan baku dan penolong industri sebagaimana yang diindikasi oleh IHS Markit,” tutur Agus.

Menanggapi hasil survei PMI manufaktur Indonesia pada bulan Mei, Jingyi Pan selaku Direktur Asosiasi Ekonomi IHS Markit mengatakan, secara keseluruhan perusahaan tetap optimistis mengenai output pada masa mendatang, dengan harapan kondisi Covid-19 membaik.

Di samping itu, IHS Markit juga melaporkan, waktu pengiriman dari pemasok diperpanjang selama enam belas bulan berturut-turut karena kendala pasokan berlanjut di tengah-tengah kondisi cuaca yang buruk, kurangnya bahan baku, dan masalah pengiriman seputar pandemi Covid-19. Dengan adanya kesulitan bahan pokok yang berlanjut, stok pembelian dan barang jadi terus menipis guna memenuhi kenaikan permintaan yang dialami produsen Indonesia.

Terkait hal tersebut, Menperin akan memastikan bahwa kendala logistik di lapangan dapat segera teratasi dengan berkoordinasi dengan stakeholder agar arus bahan baku dapat berjalan dengan baik, terutama terkait penyediaan kontainer untuk pengiriman ke luar negeri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini