Target 2030, Indonesia Produksi 600 Mobil Listrik

Rina Anggraeni, Jurnalis · Rabu 23 Juni 2021 15:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 23 320 2429768 target-2030-indonesia-produksi-600-mobil-listrik-Mq4sUsnt52.jpg Mobil Listrik. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Indonesia mempercepat hilirisasi mineral menuju industrialisasi berbasis baterai dan pengembangan kendaraan listrik. Caranya dengan mengoperasikan fasilitas pengolahan biji nikel berbasis hidrometalurgi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Menurut Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan, proses HPAL dapat menghasilkan produk nikel kelas satu, yakni Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan turunannya berupa nikel sulfat (NiSO4) dan cobalt sulfat (CoSO4) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku baterai. Produk-produk ini bernilai tambah lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang dihasilkan dari jalur RKEF.

Baca Juga: Kebutuhan Baterai Kendaraan Listrik Diproyeksi Capai 758.693 Ton di 2030

“Untuk itu, kita perlu dukung dan terus didorong untuk terjadi peningkatan investasi agar ada penambahan line (jalur) produksi, sehingga kita mendapat sebesar-besarnya manfaat dari proses produksi ini,” jelasnya, Rabu (23/6/2021).

Dengan nilai investasi smelter HPAL dari PT Halmahera Persada Legend (HPL) ini yang nilainya lebih dari USD1 milliar diharapkan akan dapat menjadi faktor pendorong dan berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan di daerah, seperti peningkatan pendapatan daerah, penyerapan tenaga kerja lokal, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan Kesehatan.

Baca Juga: Menhub: Kebutuhan Mobil Listrik Pemerintah 132 Ribu Unit

Luhut mengatakan, pada 2030, masyarakat secara global mempunyai kesadaran untuk mengurangi emisi dan akan mendorong kenaikan permintaan kendaraan listrik yang nilainya dapat mencapai 31,1 juta unit.

"Di Indonesia sendiri, pemerintah menargetkan dapat memproduksi 600 ribu unit kendaraan listrik roda empat dan 2,45 juta roda dua. Peningkatan permintaan kendaraan listrik dapat menaikkan permintaan baterai, terutama jenis NCM (nickel-cobalt-mangan)," kata Luhut.

Menko Luhut melanjutkan, bahwa teknologi pengolahan untuk bijih nikel bisa melalui jalur RKEF (pirometalurgi) maupun HPAL (hidrometalurgi) seperti yang ada di Pulau Obi ini. Smelter HPAL ini akan banyak memanfaatkan bijih nikel dengan kadar yang lebih rendah (limonit), yang jumlahnya sangat melimpah di Indonesia. Ini merupakan bagian dari optimasi atau peningkatan nilai tambah dari sumberdaya mineral yang dimiliki oleh Indonesia.

"Indonesia memiliki sumberdaya dan cadangan nikel serta cobalt yang cukup, didukung oleh mineral lain seperti tembaga, alumunium, dan timah yang akan menjadi modal besar untuk bermain dalam industri kendaraan listrik,” terang Menko Luhut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini