Mal Ditutup Selama PPKM Darurat, Begini Pergerakan Saham Ciputra, Lippo hingga Summarecon

Aditya Pratama, Jurnalis · Jum'at 02 Juli 2021 11:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 02 278 2434332 mal-ditutup-selama-ppkm-darurat-begini-pergerakan-saham-ciputra-lippo-hingga-summarecon-cr712OvPSu.jpg Mal Ditutup Selama PPKM Darurat. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Satu hari menjelang diberlakukannya PPKM Darurat, saham-saham pengelola pusat perbelanjaan atau mal menguat pada pembukaan perdagangan hari ini. Saham pengelola pusat perbelanjaan jadi perhatian karena selama PPKM Darurat, mal wajib tutup sementara.

Dalam pantauan di RTI, Jumat (2/7/2021), sejumlah saham emiten properti pengelola mal pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan, mulai dari PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA).

Baca Juga: Pengusaha Mal Minta Diberi Subsidi Biaya Hidup Karyawan

Saham APLN pada pembukaan hari ini mengalami kenaikan sebesar Rp1 atau 0,74% ke Rp136 per lembar saham, saham BSDE pada pembukaan hari ini mengalami kenaikan sebesar Rp5 atau 0,52% ke Rp960 per lembar saham.

Kemudian, saham CTRA pada pembukaan hari ini mengalami kenaikan sebesar Rp25 atau 2,78% ke Rp925 per lembar saham, saham LPKR pada pembukaan hari ini mengalami kenaikan sebesar Rp13 atau 8,55% ke Rp165 per lembar saham.

Baca Juga: 85 Mal di Jakarta Siap Ditutup saat PPKM Darurat

Lalu, saham PWON pada pembukaan hari ini mengalami kenaikan sebesar Rp4 atau 0,90% ke Rp446 per lembar saham, saham SMRA pada pembukaan hari ini mengalami kenaikan sebesar Rp10 atau 1,20% ke Rp845 per lembar saham.

Sementara itu, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD JAKARTA menjelaskan bagaimana tantangan menjalankan PPKM Darurat yang sudah ditetapkan pemerintah. Dampaknya jelas adalah kerugian yang besar yang harus ditanggung akibat berbagai pembatasan operasional.

Para anggotanya akan tetap menjalankan PPKM Darurat walaupun menghadapi kerugian bagi pusat belanja dengan operasional hanya dengan tenant berjumlah 10%-18%. 

Dia mengatakan sebuah pusat belanja dirancang dengan AC sentral dan memakai Chiller yang berkapasitas besar. Sehingga memang sangat tidak efisien dari segi biaya operasional, karena umumnya letak tenant F&B misalnya tidak pada 1 lantai.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini