Perusahaan Taksi Online China IPO, Pemiliknya Kini Jadi Miliarder Dunia

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis · Jum'at 02 Juli 2021 12:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 02 278 2434376 perusahaan-taksi-online-china-ipo-pemiliknya-kini-jadi-miliarder-dunia-7cj6ng0nVA.jpg IPO DiDi Global. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA – Platform layanan transportasi China, DiDi Global mendaftarkan sahamnya di New York Stock Exchange. Adapun hal tersebut menyebabkan meningkatnya kekayaan bersih ketua dan CEO perusahaan Will Wei Cheng dan Presidennya Jean Qing Liu.

Menurut prediksi Forbes, saham Cheng di DiDi mengakhiri hari dengan nilai USD4,4 miliar, dan Liu yang baru saja mencapai status miliarder, mencapai nilai saham hampir USD1,1 miliar. Berdasarkan pengajuan DiDi di Komisi Sekuritas dan Bursa AS, Cheng memiliki sekitar 6,5% atas DiDi dan Liu memiliki sekitar 1,6%.

Saham DiDi mulai diperdagangkan pada hari Rabu dengan harga USD16,65, lebih dari penawaran awal perusahaan sebesar USD14. Namun di sore hari, saham turun menjadi USD14,10.

Baca Juga: Incar Rp7,2 Triliun, Harga IPO Donat Krispy Kreme Turun Jadi Segini

Harga penutupan adalah USD14,14, meninggalkan DiDi dengan perkiraan kapitalisasi pasar sekitar USD67 miliar. Meskipun di bawah perkiraan kapitalisasi pasar sebesar USD80 miliar pada hari sebelumnya, nilai tersebut masih salah satu IPO terbesar di 2021.

Sebagai informasi, Cheng mendirikan layanan panggilan taksi pada 2012 DiDi Dache setelah meninggalkan pekerjaannya sebagai wakil presiden Alipay di perusahaan e-commerce China Alibaba. Dia mengatakan, ide itu muncul saat ia berdiri di luar jalur taksi pada malam yang sangat dingin di Beijing.

“Tidak seperti orang lain yang mengantre, saya tidak frustrasi karena saya punya rencana. Kami meluncurkan DiDi tahun itu,” tulis Cheng dalam surat.

Sementara itu, Liu meninggalkan pekerjaannya di Goldman Sachs untuk ikut mendirikan DiDi bersama Cheng. Dalam surat Pendiri SEC, ia menulis bahwa ide itu menarik baginya karena ia memiliki tiga anak dan takut terdampar di suatu tempat di tengah hujan atau salju tanpa jalan pulang.

Baca Juga: Perdagangan Perdana Saham IPAC dan MASB Naik hingga 25%

Awalnya, DiDi menghadapi persaingan dari Kuaidi Dache yang didukung Alibaba, serta dari Uber, yang telah memasuki pasar di China. Pada tahun 2015, Didi bergabung dengan Kuaidi Dache menjadi DiDi Chuxing.

Kemudian, pada tahun 2016, DiDi membeli operasi Uber di Tiongkok dengan imbalan saham di perusahaan tersebut. Menurut pengajuan SEC DiDi, Uber Technologies Inc. masih memiliki 12% dari perusahaan DiDi.

Pada Juni 2021, DiDi Chuxing berganti nama menjadi DiDi Global. “Kami bercita-cita untuk menjadi perusahaan teknologi yang benar-benar global,” tulis para pendiri dalam pengarsipan publik mereka.

Sejak 2018, DiDi telah berkembang, dimulai dengan Brasil dan Meksiko. Saat ini, DiDi aktif di 15 negara di luar Tiongkok. Namun, kehadirannya di Tiongkok merupakan yang terbesar sejauh ini. Pada tahun 2020, hanya 2% dari pendapatannya yang diperoleh dari operasi internasionalnya.

DiDi belum menguntungkan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2020, DiDi memiliki pendapatan USD21,6 miliar, tetapi dengan kerugian bersih USD1,6 miliar. Pengajuan SEC-nya mengakui:

"Kami telah mengalami kerugian yang signifikan sejak awal, dan kami mungkin tidak mencapai atau mempertahankan profitabilitas,” jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini