Tolong...Kondisi BUMN Karya saat Ini Memprihatinkan

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Kamis 08 Juli 2021 15:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 08 320 2437584 tolong-kondisi-bumn-karya-saat-ini-memprihatinkan-CagtCMDxc3.jpg Kondisi BUMN Karya Memprihatinkan. (Foto: Okezone.com/PUPR)

JAKARTA - Kondisi keuangan BUMN Karya tercatat memprihatinkan karena terdampak pandemi Covid-19. Kontrak baru dan penjualan perseroan juga menjadi sebab utamanya.

"Kondisi BUMN Karya saat ini cukup memprihatinkan terutama akibat kombinasi dari dua hal. Pertama, karena ada tekanan pandemi Covid-19 yang berdampak pada kontrak baru dan penjualan," ujar Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, saat rapat kerja bersama Komisi VI DPR, Kamis (8/7/2021).

Baca Juga: Kontribusi BUMN Rp3.295 Triliun, Erick Thohir Soroti PMN

Tiko, sapaan akrabnya mengatakan, penugasan pemerintah kepada perusahaan untuk menjalankan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tidak didukung dengan Penyertaan Modal Negara (PMN) pun menjadi sebab lain. Perkara tersebut dinilai mempengaruhi keuangan perusahaan.

"Seperti kita ketahui, hampir tidak ada PMN di tahun lalu, 2017- 2019 yang menanggung PSN (perusahaan)," katanya.

Baca Juga: Erick Thohir Minta Tambahan PMN Rp33,9 Triliun untuk 3 BUMN

Dia memaparkan, kondisi tersebut dialami oleh Perusahaan Umum Perumahan Nasional (Perumnas). Di mana, perusahaan tengah mengalami penurunan pendapatan karena penjualan rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) tercatat melandai.

Sementara, inventori rumah Perumnas tercatat tinggi sehingga menyebabkan rasio utang terhadap ekuitas menjadi naik. Untuk memastikan neraca maupun kekuatan ekuitas yang memadai, pemegang saham menginginkan ada tambahan PMN untuk memastikan penugasan Perumnas dalam membangun rumah bagi MBR bisa dilanjutkan.

Hal serupa juga dialami PT Waskita Karya (Persero) Tbk,. Tiko mencatat, sejak 2015-2016 emiten ditugaskan negara untuk mengambil alih dan melanjutkan sejumlah proyek jalan tol di Jawa yang mangkrak. Perkaranya, aksi korporasi itu menyebabkan utang Waskita meningkat.

"Akan ada skema restrukturisasi menyeluruh, ada dua skema penjaminan proyek yang ada dan juga modal baru Rp 79 triliun terutama memperkuat permodalan, karena banyak modal yang terserap dari masa lalu," kata dia.

PT Hutama Karya (Persero) pun tengah memikul beban keuangan. Saat ini, perseroan tengah mengerjakan proyek tol Trans Sumatera, namun, selama dua tahun PMN untuk perusahaan mengalami keterlambatan.

Tiko mencatat, aset perusahaan meningkat, tapi nilai utang naik signifikan, sedangkan ekuitas tidak bertambah. Kondisi itu, membuat keuangannya tertekan.

Sementara, untuk menyelesaikan Tol Trans Sumatera tahap 1, manajemen membutuhkan anggaran senilai Rp 66 triliun. Dimana, skema dana akan diberikan secara bertahap pada 2021 ini.

"Tadi sudah ditambahkan menjadi Rp25 triliun dan pada tahun 2022 diharapkan akan ada Rp30 triliun lagi untuk bisa memperkuat dan menyelesaikan tol Trans Sumatera tahap 1. Kemungkinan sisanya akan diberikan pada tahun 2023," kata dia.

Senasib, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, atau WIKA pun membutuhkan bantuan pendanaan dari pemerintah. Pemegang saham menilai, pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung mengharuskan negara menggelontorkan dana kepada perusahaan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini