Obligasi Korporasi Masih Dibayangi Sentimen Covid-19

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Jum'at 09 Juli 2021 14:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 09 278 2438134 obligasi-korporasi-masih-dibayangi-sentimen-covid-19-IdzNkNLpwc.jpg Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Freepik)

JAKARTA - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyebut, prospek emisi obligasi korporasi pada semester dua 2021 masih akan dibayangi oleh sentimen melonjaknya penyebaran virus corona di Indonesia. Hal ini akan menghambat proses pemulihan ekonomi Indonesia ditambah PPKM Darurat sejak 3 Juli lalu.

Direktur Utama Pefindo, Salyadi Saputra menuturkan, selain memperlambat pemulihan ekonomi, persepsi risiko investasi di Indonesia juga akan meningkat di mata para investor. Akibatnya, potensi serapan surat utang korporasi pun akan menurun.

Baca Juga: Daftar Agenda Emiten Hari Ini, Ada yang Bayar Dividen!

“Hal ini akan membuat korporasi berpikir dua kali sebelum melakukan emisi surat utang,” katanya dalam diskusi daring Pefindo di Jakarta, kemarin.

Sentimen lain, lanjut Salyadi yang akan mempengaruhi outlook obligasi korporasi Indonesia adalah langkah tapering The Fed yang hingga kini belum jelas. Dirinya menjelaskan, meskipun kebijakan tapering belum akan dilakukan pada tahun ini, risiko pada pasar obligasi korporasi akan tetap terlihat. Pasalnya, Investor telah memasang sikap waspada terhadap Indonesia menyusul lonjakan kasus positif virus corona beberapa waktu belakangan.

Baca Juga: Investor Domestik Bikin IHSG 'Kebal' Covid-19?

Kenaikan risiko pasar tersebut memicu terjadinya outflow dari pasar surat berharga negara yang akan turut berimbas pada kenaikan imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN). “Akibatnya, yield dan kupon obligasi korporasi juga akan semakin tinggi,” jelasnya.

Dia melanjutkan, kenaikan risiko tersebut akan membuat emiten cenderung lebih selektif dan waspada sebelum melakukan emisi obligasi pada semester II/2021. Salyadi mengatakan, kebanyakan perusahaan yang merencanakan emisi surat utang pada paruh kedua tahun ini bertujuan melakukan refinancing utang obligasi yang sudah ada.

Selain itu, perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki opsi untuk meminjam ke bank juga akan tetap melakukan penerbitan surat utang pada tahun ini meski dibayangi potensi kenaikan risiko. Selanjutnya, ia memperkirakan sektor perbankan dan multifinance tidak akan melakukan banyak emisi di sisa tahun ini. Pasalnya, sektor usaha tersebut masih memiliki tingkat likuiditas yang melimpah.

“Mereka masih sangat likuid, bahkan beberapa lembaga mengalami over likuiditas. Mereka menerima banyak dana pihak ketiga (DPK), tetapi penyaluran kreditnya tersendat,” imbuhnya.

Pada awal tahun ini, Pefindo memproyeksi penerbitan surat utang korporasi 2021 akan berada di kisaran Rp122 triliun hingga Rp159 triliun. Meski demikian, melihat kondisi pasar dan sentimen yang ada, Salyadi mengatakan Pefindo akan merevisi outlook ini dalam waktu dekat. Sebagai informasi, di paruh pertama tahun ini, Pefindo telah mengantongi mandat penerbitan surat utang senilai lebih dari Rp75 triliun.

Berdasarkan data Pefindo per 30 Juni 2021, jumlah mandat emisi yang telah diterima namun belum terealisasi adalah sebesar Rp75,58 triliun. Jumlah tersebut didapat dari 42 perusahaan yang berasal dari beragam sektor. Berdasarkan sektor, perusahaan induk memiliki rencana emisi terbesar yakni Rp13,75 triliun dari 2 perusahaan, diikuti konstruksi dengan rencana emisi Rp9,7 triliun dari 5 perusahaan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini