2.040 Ritel Bangkrut, Setiap Hari Ada 4 Toko Tutup

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Sabtu 31 Juli 2021 14:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 31 320 2448902 2-040-ritel-bangkrut-setiap-hari-ada-4-toko-tutup-eLOuYog8YQ.jpg 4 Toko Ritel Tutup Setiap Hari. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey mengungkapkan sepanjang April sampai Juli ada 2.040 anggota ritel modern Aprindo yang sudah menutup gerainya. Artinya, ada sekitar 4 toko setiap hari yang tutup.

"Ini belum termasuk toko kelontong yang di ruko-ruko yang memang bukan anggota kami. Kemudian yang ada di daerah, tidak hanya di pusat provinsi saja. Ini belum termasuk itu," ujarnya dalam diskusi Polemik MNC Trijaya, Sabtu (31/7/2021).

Baca Juga: Sertifikat Vaksin Syarat Masuk Mal? Pengusaha Bilang Begini

Roy mengatakan, sektor ritel saat ini hanya tinggal menghitung hari untuk beroperasi jika tidak ada keberpihakan dari pemerintah. Di sisi lain, insentif yang diberikan juga belum maksimal.

Menurut dia, ada satu insentif yang dikeluarkan pemerintah pada awal April, yaitu insentif PPN sewa. Namun biaya penghapusan pajak sewa di pusat perbelanjaan tidak berjalan optimal.

Baca Juga: Pengusaha Minta Industri Ban Masuk ke Sektor Kritikal Selama PPKM

"Sekarang pertanyaan kami, ketika mal tutup, apakah kita membayar PPN sewa? Ya tidak ada PPN sewa. Kemudian peritel yang di luar mal seperti minimarket atau supermarket yang punya bangunan gedung sendiri, ada bayar PPN sewa? Tidak ada bayar PPN sewa. Artinya, insentif ini tidak optimal," jelasnya.

Sebelumnya, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat membuat bisnis ritel menurun drastis terutama sektor pangan hingga 60%. PPKM Darurat Jawa-Bali berlaku pada 3- 20 Juli 2021.

"Terkait PPKM situasinya sangat menggerus sektor ritel karena adanya pembatasan mobilitas dan ini tentunya mempengaruhi konsumen datang ke ritel dan membuat pembelanjaan serta konsumsi ini juga menurun dan terdampak signifikan," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey.

Dirinya mengatakan, pada bisnis ritel terbagi menjadi dua yaitu sektor pangan dan non pangan. 

"Untuk yang sektor pangan mecakup kebutuhan makanan dan minuman seperti supermarket, gerai swalayanan 50% hingga 60% tentu, itu juga yang datang membelinya terbatas hanya kebutuhan pokok saja tidak ada kebutuhan lain yang dibeli istilahnya impulsif buying mereka hanya datang untuk beli kebutuhan pangan pokok saja," paparnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini