Restrukturisasi Kredit Perbankan Hampir Tembus Rp1.000 Triliun

Tim Okezone, Jurnalis · Selasa 10 Agustus 2021 07:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 10 320 2453391 restrukturisasi-kredit-perbankan-hampir-tembus-rp1-000-triliun-1Xw6vxPAWQ.jpeg Restrukturisasi Kredit nyaris Rp1.000 triliun (Foto: Okezone)

JAKARTA - Stabilitas sistem keuangan terus dijaga di tengah pandemi Covid-19 yang memukul sejumlah sektor perekonomian. Salah satu upayanya dengan program restrukturisasi kredit dan pembiayaan yang diberlakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak Maret 2020.

Hingga Maret 2021, nilai restrukturisasi kredit perbankan mencapai Rp999,7 triliun untuk 7,97 juta debitur. Sebanyak Rp392 triliun dari jumlah ini diajukan oleh 6,17 juta debitur dari pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang menjadi pihak paling terdampak pandemi.

Baca Juga: Colek Perbankan, OJK Akan Perpanjang Restrukturisasi Kredit hingga Maret 2022

“Program restruktusasi kredit sangat membantu, terutama para debitur karena sedang menghadapi masalah cash flow. Kredit NPL relatif bisa dikelola dengan baik, meskipun sebenarnya sangat dibantu oleh program relaksasi pinjaman dari OJK sejak tahun lalu dan diperpanjang hingga Maret 2022. Ini sangat membantu,” jelas Direktur Center of Information and Develompment Studies (CIDES) Umar Juoro dilansir dari Antara, Selasa (10/8/2021).

“Sektor perbankan Rp900an triliun yang direstrukturisasi sekarang sudah turun jadi sekitar Rp700an triliun, kalau dilihat dari sektor riilnya, angka itu sangat luar biasa bagi pergerakan ekonomi. Restruktutisasi ini menggambarkan kesulitan yang dialami,” paparnya.

Baca Juga: OJK Buka Peluang Perpanjang Restrukturisasi Kredit

Relaksasi kredit diatur dalam Peraturan OJK Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 yang kemudian diubah menjadi POJK Nomor 48/POJK.03/2020.

Umar Juoro mengemukakan pada Agustus ini, OJK akan mengumumkan kelanjutan program relaksasi kredit. Ia memperkirakan program itu akan diperpanjang karena ada penyebaran virus varian baru, sehingga kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat kembali di batasi.

“Kalau untuk perbankan sendiri, Agustus nanti OJK akan mengumumkan akan diperpanjang atau tidak, tetapi kemungkinan akan diperpanjang lagi. Tinggal sekarang perbankannya. Setahu saya, bank-bank buku empat dan tiga sudah menyiapkan provisinya,” ujarnya lagi.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini