Share

Neraca Pembayaran Indonesia Minus USD0,4 Miliar, Ini Penyebabnya

Michelle Natalia, Jurnalis · Jum'at 20 Agustus 2021 10:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 20 320 2458316 neraca-pembayaran-indonesia-minus-usd0-4-miliar-ini-penyebabnya-XvVPI65lw7.jpg Bank Indonesia. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap baik pada triwulan II-2021, sehingga mendukung ketahanan eksternal. NPI triwulan II 2021 mengalami defisit rendah sebesar USD0,4 miliar, ditopang oleh defisit transaksi berjalan yang tetap rendah dan surplus transaksi modal dan finansial yang berlanjut.

Direktur Eksekutif Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, posisi cadangan devisa setara dengan pembiayaan 8,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional.

Baca Juga: BI: Neraca Pembayaran Indonesia Surplus USD2,6 Miliar pada 2020

"Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2021 mencapai USD137,1 miliar, relatif sama dibandingkan posisi pada akhir Maret 2021," kata Erwin di Jakarta, Jumat (20/8/2021).

Lalu, defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2021 tetap rendah meski meningkat sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi domestik. Transaksi berjalan pada periode laporan mencatat defisit sebesar USD2,2 miliar (0,8% dari PDB), meningkat dibandingkan dengan defisit sebesar USD1,1 miliar (0,4% dari PDB) pada triwulan sebelumnya.

Baca Juga: Neraca Pembayaran Kuartal III Surplus USD2,1 Miliar

Perkembangan ini dipengaruhi oleh peningkatan surplus neraca barang, didukung oleh kenaikan ekspor seiring peningkatan permintaan negara mitra dagang utama dan harga komoditas dunia, di tengah kenaikan impor sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi domestik.

Sementara itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat akibat kenaikan pembayaran imbal hasil investasi berupa dividen seiring perbaikan kinerja korporasi pada periode laporan.

"Defisit neraca jasa juga meningkat, antara lain disebabkan oleh defisit jasa transportasi yang melebar akibat peningkatan pembayaran jasa freight impor barang," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini