Kementerian ESDM Revisi Aturan PLTS Atap, Apa Keuntungannya?

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Sabtu 28 Agustus 2021 19:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 28 320 2462592 kementerian-esdm-revisi-aturan-plts-atap-apa-keuntungannya-UGusyZFRBp.jpg Kementerian ESDM Mempercepat Upaya Pemanfaatan PLTS Atap. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempercepat pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap melalui revisi regulasi PLTS Atap. Komitmen ini diimbangi upaya menjaga keandalan sistem.

Regulasi yang tengah disiapkan adalah revisi Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 16 Tahun 2019. Salah satu pokok revisi regulasi tersebut adalah peningkatan ketentuan ekspor-impor kWh listrik dari semula hanya 65% menjadi sebesar 100%.

Selain itu, pokok-pokok revisi regulasi Permen ESDM tersebut antara lain mencakup kelebihan akumulasi selisih tagihan dinihilkan yang diperpanjang durasinya, jangka waktu permohonan PLTS Atap lebih singkat, dan dibukanya peluang perdagangan karbon antara pelanggan PLTS Atap dan pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Umum (IUPTLU).

Baca Juga: Bukit Asam (PTBA) Siapkan Lahan 3 Proyek PLTS 300 Mw

Revisi regulasi juga mewajibkan mekanisme pelayanan berbasis aplikasi, perluasanya pelanggan tidak hanya untuk pelanggan PT PLN (Persero) saja tapi juga termasuk pelanggan di wilayah usaha non-PLN, serta ketentuan mengenai Pusat Pengaduan sistem PLTS Atap untuk menerima dan menindaklanjuti pengaduan atas PLTS Atap.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana mengatakan, pelanggan PLTS Atap dari golongan tarif untuk keperluan industri dengan kapasitas sistem PLTS Atap lebih besar dari 3 MW wajib menyediakan pengaturan basis data prakiraan cuaca (weather forecast).

"Ini harus disambungkan dengan pusat beban milik PLN untuk diantisipasi sehingga enggak dadakan, enggak panikan," kata Rida.

Baca Juga: Revisi Aturan PLTS Atap Bebani APBN, Kok Bisa?

Dia melanjutkan, pelanggan industri tersebut juga harus melaporkan rencana operasi Sistem PLTS Atap kepada Pemegang IUPTLU secara berkala sesuai dengan kebutuhan. Di samping itu, instalasi sistem PLTS Atap wajib mengikuti SNI dan/atau standar internasional.

Pemerintah juga memberikan penugasan kepada PLN untuk membangun aplikasi penggunaan PLTS Atap berbasis digital yang terintegrasi dengan sistem Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) atau smartgrid distribusi.

Rida menegaskan perlunya pengawasan untuk menjaga overcapacity PLTS Atap. Salah satu caranya adalah dengan membatasi kapasitas sistem PLTS Atap paling tinggi 100% dari daya tersambung pelanggan PLTS Atap pada PLN.

"Pemasangan PLTS Atap lebih banyak di-drive untuk kepentingan yang masangnya, untuk efisiensi penggunaan listrik dari PLN sambil berkontribusi menggalakkan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan mengurangi emisi. PLTS Atap didesain untuk efisiensi, bukan untuk jual beli," jelasnya.

Adapun peluang bisnis pengelolaan PLTS Atap oleh PLN dari sisi penawaran, permintaan, maupun bisnis ketika PLTS Atap makin intens dipasang.

"Dari sisi bisnis misalkan carbon trading (perdagangan karbon). Saya pikir itu adalah peluang, jadi semuanya tidak dilihat sebagai sesuatu yang memberatkan untuk korporasi," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini