Sandiaga Uno Bangga Industri Penyiaran Berkembang di Tengah Pandemi Covid-19

Michelle Natalia, Jurnalis · Rabu 15 September 2021 13:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 15 320 2471716 sandiaga-uno-bangga-industri-penyiaran-berkembang-di-tengah-pandemi-covid-19-xWg3lckgj2.jpg Industri Penyiaran di Tengah Pandemi. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menilai pandemi Covid-19 berdampak pada semua sektor, tak terkecuali pariwisata dan ekonomi kreatif. Hanya saja, dari turunnya sektor pariwisata, sub sektor televisi dan radio justru menunjukkan perkembangan yang luar biasa.

"Jumlah tenaga kerja memang berkendala dari segi penyerapan, tapi ternyata sektor televisi dan radio, dan sektor penyiaran mengalami suatu revival. Kami melihat bahwa semangat untuk beradaptasi dan inovasi agar dapat bangkit dari pandemi menghinggapi 34 juta pekerja parekraf," ujar Sandiaga dalam Konferensi Penyiaran Nasional 2021 secara virtual di Jakarta, Rabu(15/9/2021).

Kemenparekraf menerapkan strategi inovasi, adaptasi, dan kolaborasi. Di balik kesulitan, kata Sandiaga, ada kemudahan. Ternyata keberadaan teknologi digital dan informasi komunikasi menjadi suatu fenomena yang spektakuler.

Baca Juga: Hari Penyiaran, Migrasi TV Digital Buat Konten dan Segmentasi Beragam

"Ada webinar, remote working, work from home bisa beradaptasi, dan terselenggaranya konferensi hari ini dihadiri oleh 1.000 peserta, dan kalangan akademisi, ini massive online open course (MOOC). MOOC menunjukkan bahwa pandemi memicu inovasi kita," ungkap Sandiaga.

Dia berpesan, agar bisa menciptakan konten-konten kreatif yang mempersatukan bangsa dan distribusikan informasi yang akurat dan terverifikasi dalam bingkai inovasi. Termasuk bagaimana informasi tersebut sesuai dengan nilai luhur bangsa, dan juga penyiaran ini mempersatukan persatuan kebangsaan Indonesia, serta bagaimana program-program strategis kebangkitan ekonomi, termasuk kebangkitan sektor parekraf ini bisa dibungkus dalam konsep kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan keberlanjutan lingkungan atau CHSE.

Baca Juga: Kominfo Berharap DPR Selesaikan Legislasi TV Analog ke Digital

"Kebangkitan kita haruslah kita syukuri bahwa tren Covid-19 mengalami perbaikan, tapi jangan sampai kita lengah, prokes harus kita terapkan dengan ketat dan disiplin. Saya menitipkan kepada industri media dan komunikasi, serta penyiaran agar terus berkolaborasi, ciptakan satu pemikiran luhur di mana tentunya sektor penyiaran mendukung pembangunan bangsa dan terciptanya generasi-generasi ke depan yang berakhlak mulia dan menjunjung tinggi amanah, tabligh, siddiq, dan fathonah, membangun bangsa dengan Bhinneka Tunggal Ika dan berlandaskan Pancasila," pungkas Sandiaga.

 Sementara itu, Ketua Umum (Asosiasi Televisi Swasta Indonesia) ATVSI sekaligus Direktur Corporate Secretary MNC Group Syafril Nasution mengatakan bahwa ketujuh pemersatu bangsa tersebut tercerminkan melalui tayangan televisi.

"Kami dari ATVSI ada 10 anggota, ada RCTI, SCTV, Indosiar, MNC TV (dahulu TPI), ANTV, Metro TV, Trans TV, Trans 7, GTV, dan tvOne. Kami selalu menayangkan program-program terkait pemersatu bangsa tadi," ujar Syafril.

Dia mengatakan bahwa ada dua hal yang ditayangkan televisi, yaitu informasi dan hiburan. Informasi terdiri dari hard news, soft news, feature, talk show, dan infotainment. Hiburan sebagaimana diketahui ada drama seperti sinetron, kartun, ftv, film, dan ada games, musik, sulap, tarian, dan yang lainnya.

"Semua ini selalu mencerminkan bentuk kesatuan kita sebagai bangsa Indonesia. Dengan adanya perkembangan teknologi digital, televisi tidak lagi di rumah, tapi juga dari gadget. Yang kami dapatkan, dari 2019 pertumbuhan menonton TV per jamnya per hari itu memang meningkat. Di tahun 2016, rata-rata orang menonton televisi selama 4 jam 54 menit, tapi di 2019 menjadi 4 jam 59 menit," ujar Syafril.

Jadi, penonton televisi beralih pada menonton menggunakan internet, di mana pada tahun 2016, rata-rata orang-orang menonton lewat internet selama 2 jam 26 menit, tapi sangat signifikan di tahun 2019 menjadi 3 jam 20 menit. Ini menunjukkan pertumbuhan yang jauh berbeda antara menonton tayangan di televisi dan internet.

"Yang menonton televisi memang lebih banyak, tapi dari jumlah kuantitasnya lebih sedikit. Televisi sampai hari ini masih merupakan salah satu aset bangsa, karena sarana strategis dalam menyediakan informasi dan hiburan bagi masyarakat, juga sebagai motor penggerak ekonomi karena dapat menumbuhkan pasar melalui jasa dan iklan, juga membina jati diri bangsa," jelas Syafril.

Hal ini yang diberikan oleh televisi sampai hari ini. Jika dilihat perkembangan televisi Indonesia, Indonesia merupakan negara paling banyak stasiun televisinya di dunia. Di mana pada tahun 2019, Indonesia memiliki 689 jumlah televisi antara SSC dan non SSC. Dalam persaingan itu, sangat ketat sehingga bisa menjurus pada persaingan tidak sehat.

"Di televisi, paling utama adalah konten. Semakin banyak konten bagus, maka akan semakin banyak televisi itu ditonton orang. Kontenlah yang paling utama," tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini