Kisah Pendiri Didi, Bangun Perusahaan Bermodal Rp220 Juta Mampu Usir Uber dari China

Sevilla Nouval Evanda, Jurnalis · Rabu 22 September 2021 11:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 22 320 2475091 kisah-pendiri-didi-bangun-perusahaan-bermodal-rp220-juta-mampu-usir-uber-dari-china-xH616JMgmi.png Cheng Wei Berhasil Kembangkan Taksi Online, DiDi. (Foto: Okezone.com/CNN)

Beberapa hari kemudian, Administrasi Cyberspace China melarang Didi dari toko aplikasi. Hal ini pun membuat perusahaan tak dapat mendaftarkan pengguna baru. Pengawas internet menuduh perusahaan tersebut secara ilegal mengumpulkan dan menangani data pengguna secara tidak sah. Terdapat kumpulan lokasi dan rute yang berisi informasi sensitif tentang lalu lintas, jalan, dan warga China.

Dengan adanya masalah ini, Didi juga menghadapi kemarahan dan kecurigaan dari investor luar negeri. Anggota parlemen dan investor Amerika telah meminta Komisi Sekuritas dan Bursa AS untuk menyelidiki kegagalan IPO Didi.

Bagi banyak analis, keputusan Cheng untuk melanjutkan IPO tampak membingungkan atau sembrono.

"Tidak ada perusahaan China yang dapat secara terbuka menantang Partai Komunis China dan mengharapkan keringanan hukuman," kata Alex Capri, peneliti di Hinrich Foundation.

3. Pasar Didi

Meski dilarang di toko aplikasi, Didi kini masih beroperasi bagi pengguna yang telah mengunduhnya sebelum larangan. Perusahaan juga bersikeras bahwa mereka mempertahankan operasi normal secara global.

Namun, ratusan aplikasi serupa berlomba untuk memanfaatkan jatuhnya Didi dan memperluas secara agresif, mengiklankan, dan menawarkan diskon platform-nya besar-besaran.

Saingan lama Didi, Meituan, menghidupkan kembali aplikasi transportasi mobile mandiri setelah Didi dihapus dari toko. Meituan menawarkan kupon kepada pengguna baru dan membebaskan pengemudi baru dari biaya komisi selama seminggu.

"Ini adalah pasar yang kejam," kata Tu Le, pendiri dan direktur pelaksana konsultan Sino Auto Insights. Walau begitu, dia mengatakan, rival tidak mungkin mengancam dominasi Didi sepenuhnya.

Pasalnya, menurut Kementerian Transportasi China, perusahaan ini malah memproses 13% lebih banyak pesanan pada Juli, setelah pelarangan, daripada Juni.

Capri, peneliti Hinrich Foundation, mengaku kurang optimis tentang masa depan Didi, terutama selama perusahaan terus mencoba masuk ke pasar AS.

"Semakin lama tetap terdaftar di pasar AS, semakin banyak kemarahan yang akan ditimbulkan dari Beijing," pungkasnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini