JAKARTA - Salah satu alasan melonjaknya kinerja ekspor Indonesia adalah terbukanya akses pasar ke beberapa negara tujuan ekspor non-tradisional.
"Kementerian Perdagangan membuka akses pasar ekspor ke beberapa negara non-traditional, di antaranya Afrika, Eropa tengah, dan Amerika Selatan sehingga terjadi lonjakan ekspor," kata Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Benny Soetrisno, Rabu (6/10/2021).
Baca Juga: Dorong Pemulihan Ekonomi, LPEI Beri Pembiayaan UMKM Berorientasi Ekspor
Oleh karena itu, Benny menyampaikan bahwa kerja sama ekonomi yang diupayakan Kemendag berupa Comprehensie Economic Partnership Agreement (CEPA), Free Trade Agreement (FTA), maupun Preferential Trade Area (PTA), sangat signifikan dalam mendongkrak penjualan produk RI ke berbagai negara.
Terkait membaiknya sektor perdagangan di Indonesia, Benny memaparkan bahwa lonjakan perdagangan yang terjadi saat ini berbanding lurus dengan penurunan kasus COVID-19 yang juga diupayakan oleh pemerintah.
Baca Juga: RI Kebanjiran Pesanan Produk Berkat Perang Dagang
"Lonjakan perdagangan berbanding lurus dengan penurunan penyebaran COVID-19, yang bisa terlihat melalui level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang semakin turun , sehingga terjadi pelonggaran larangan mobilitas atau aktivitas masyarakat," ujar Benny.
Menurut dia, upaya penurunan penyebaran COVID-19 yang dilakukan pemerintah tersebut sejalan dengan perbaikan usaha dan bisnis sektor perdagangan yang terjadi.
Terlebih, banyaknya dukungan pemerintah terhadap dunia usaha melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), termasuk kepada UMKM, telah banyak digulirkan.
"Dukungan Pemerintah terhadap dunia usaha sudah banyak melalui program dana Pemulihan Ekonomi Nasional ( PEN ) termasuk terhadap UMKM," tukas Benny.
Kendati demikian, untuk memaksimalkan pemulihan usaha dan bisnis di sektor perdagangan, Benny berharap ada pelonggaran akses pembiayaan di lembaga keuangan.
Hal tersebut dibutuhkan mengingat selama pandemi melanda Indonesia, modal usaha telah terpakai sebagai dana cadangan untuk bisa bertahan di masa-masa sulit.
"Pelonggaran akses pembiayaan itu maksudnya dengan bunga rendah dan akses yang lebih mudah," pungkas Benny.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan pada bulan tersebut sebesaR USDd4,74 miliar. Surplus itu lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang angkanya sebesar USD2,59 miliar.
Menurut BPS, nilai ekspor Indonesia pada periode tersebut mencapai USD21,42 miliar. Capaian itu menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)