Harga Brent dan WTI Turun Akibat Stok Minyak AS Naik 2,3 Juta Barel

Antara, Jurnalis · Kamis 07 Oktober 2021 05:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 07 320 2482477 harga-brent-dan-wti-turun-akibat-stok-minyak-as-naik-2-3-juta-barel-bpswxjfUDl.jpg Harga Minyak Dunia Naik. (Foto: Okezone.com/Reuters)

NEW YORK - Harga minyak akhirnya turun hingga 2% pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Menurunnya harga minyak karena kenaikan persediaan minyak mentah AS secara tak terduga.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember turun USD1,48 atau 1,8% menjadi USD81,08 per barel, setelah menguat mencapai USD83,47 atau tertinggi sejak Oktober 2018.

Baca Juga: Minyak Dunia Dibanderol USD82,5/Barel, Harga BBM Naik?

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun USD1,50 atau 1,9% menjadi USD77,43 per barel, setelah mencapai USD79,78 atau tertinggi sejak November 2014.

Departemen Energi AS mencatat persediaan minyak mentah AS naik 2,3 juta barel pekan lalu. Padahal diekspektasikan stok minyak AS mengalami penurunan moderat 418.000 barel. Persediaan bensin juga naik, sementara persediaan distilat turun hanya sedikit.

"Kami melihat beberapa aksi ambil untung karena minyak telah naik secara signifikan," kata Direktur Tradition Energy Stamford, Gary Cunningham, dikutip dari Antara, Kamis (7/10/2021).

Baca Juga: Harga Minyak Melesat ke Level Tertinggi dengan Banderol USD81,2/Barel

Sementara itu, harga Brent telah melonjak lebih dari 50% tahun ini, atau menambah tekanan inflasi yang dapat memperlambat pemulihan dari pandemi Covid-19. Gas alam telah melonjak ke rekor puncak di Eropa dan harga batu bara dari eksportir utama juga mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

Lonjakan terbaru dalam harga minyak mentah telah didukung oleh penolakan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya untuk meningkatkan produksi dan kekhawatiran tentang pasokan energi yang ketat secara global.

Pada Senin (4/10/2021), OPEC, Rusia dan sekutu lainnya, yang dikenal sebagai OPEC+, memilih untuk tetap dengan rencana untuk meningkatkan produksi secara bertahap dan tidak meningkatkannya lebih jauh seperti yang telah didesak oleh Amerika Serikat dan negara-negara konsumen lainnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini