IHSG Meroket ke 6.662, Dibuka Menguat 0,55%

Aditya Pratama, Jurnalis · Jum'at 15 Oktober 2021 09:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 15 278 2486651 ihsg-meroket-ke-6-662-dibuka-menguat-0-55-jT3QGZeip0.jpg IHSG Menguat. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kian kokoh di zona hijau. Pada pembukaan perdagangan IHSG melesat 36,63 poin atau 0,55% ke 6.662.

Pada pembukaan perdagangan, Jumat (15/10/2021), terdapat 239 saham menguat, 70 saham melemah, dan 187 saham stagnan. Transaksi perdagangan mencapai Rp555,93 miliar dari 561,20 juta lembar saham yang diperdagangkan.

Baca Juga: IHSG Diprediksi Terus Menguat, Investor Diingatkan Tetap Waspada

Indeks LQ45 naik 6,84 poin atau 0,70% ke 979,50, indeks JII naik 5,50 poin atau 0,94% ke 590,55, indeks IDX30 naik 3,81 poin atau 0,74% ke 521,35, dan indeks MNC36 naik 2,29 poin atau 0,69% ke 333,72.

Sementara itu, saham-saham yang masuk top gainers, yaitu PT Duta Anggada Realty Tbk (DART) naik Rp30 atau 11,36% ke Rp294, saham PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) naik Rp9 atau 10,23% ke Rp97, dan saham PT Triniti Dinamik Tbk (TRUE) naik Rp8 atau 3,39% ke Rp244.

Baca Juga: IHSG Sesi I Meroket 1% ke Level 6.605, 268 Saham Menguat

Adapun saham-saham yang masuk top losers antara lain, saham PT Agro Yasa Lestari Tbk (AYLS) turun Rp13 atau 6,70% ke Rp181, saham PT Esta Multi Usaha Tbk (ESTA) turun Rp10 atau 6,67% ke Rp140, dan saham PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) turun Rp20 atau 4,76% ke Rp400.

Menurut CEO Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya, pergerakan IHSG menjelang all time high sepanjang masa merupakan langkah pencapaian rekor baru yang spektakuler di tengah perlambatan ekonomi yang masih berlangsung.

Selain itu, jelang rilis data perekonomian pada hari ini tentang neraca perdagangan disinyalir akan mencatatkan hasil yang cukup baik sehingga hal ini dapat menjadi salah satu faktor penunjang dari pertumbuhan tingkat kepercayaan investor ke pasar modal Indonesia.

"Hal ini merupakan prestasi tersendiri bagi pasar modal Indonesia, namun risiko terhadap potensi terjadinya koreksi jangka pendek tetap perlu diwaspadai mengingat capital inflow yang belum terlihat melaju secara signifikan ke dalam pasar modal," ujar William.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini