56% Karyawan Bilang Gaji Jadi Pemicu Utama Stres di Kantor

Aditya Pratama, Jurnalis · Minggu 24 Oktober 2021 22:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 24 622 2490943 56-karyawan-bilang-gaji-jadi-pemicu-utama-stres-di-kantor-M2cMvT52cb.jpg Pemicu Stres Kerja di Kantor. (Foto: Okezone.com/Boldsky)

NEW YORK - Pemicu stres di tempat kerja ternyata banyak faktor yang menyebabkan. Namun faktor utama pemicu stres adalah gaji yang rendah.

Berdasarkan survei American Psychological Association (APA) terhadap 1.501 karyawan di Amerika Serikat (AS) antara 26 Juli dan 4 Agustus 2021. Lebih dari setengah responden atau 56% karyawan mengatakan gaji rendah memberikan dampak signifikan terhadap tingkat stres mereka. Persentase ini naik dibanding 2019 sebesar 49%.

"Ini adalah salah satu tingkat tertinggi yang pernah kami lihat," kata psikolog klinis dan direktur senior inovasi perawatan kesehatan APA Vaile Wright, dikutip dari CNBC, Minggu (24/10/2021).

Baca Juga: .Ilmu Sosial dan Teknologi Permudah Karier Direktur BRI sebagai Bankir

Stres di tempat kerja meningkat di berbagai faktor. Setelah gaji, 54% karyawan mengatakan jam kerja yang panjang, dan 52% mengatakan kurangnya kesempatan untuk berkembang adalah sumber stres kerja yang signifikan. Persentase itu masing-masing naik dari 46% dan 44% pada 2019.

Mayoritas karyawan mengatakan, stres terkait pekerjaan berdampak negatif terhadap kinerja dan produktivitas, dengan cara seperti membatasi motivasi, energi, atau fokus mereka. Stres juga menyebabkan karyawan memilih untuk berhenti kerja.

Baca Juga: 8 Tips saat Interview Kerja, Rileks dan Tonjolkan Kelebihan

Lebih dari 40% karyawan yang disurvei mengatakan, mereka berniat mencari pekerjaan baru di perusahaan lain pada tahun depan, naik dari sekitar 33% di 2019. Mereka yang biasanya merasa tegang atau stres selama kerja, tiga kali lebih mungkin untuk mengatakan akan berhenti di tahun depan.

Dalam survei, sebagian besar karyawan atau 87% berpikir perusahaan dapat memberikan dukungan kesehatan mental yang lebih baik, seperti dengan menawarkan jam kerja yang fleksibel, mendorong karyawan untuk menjaga kesehatan, mendorong karyawan untuk menggunakan cuti yang dibayar, dan mendorong istirahat selama hari kerja.

Wright mengatakan, perusahaan harus mengingat seberapa banyak dan cepat tenaga kerja mereka beradaptasi selama Covid-19 ketika mempertimbangkan bagaimana merestrukturisasi pekerjaan mereka.

"Kami telah melihat bagaimana pengusaha dapat berinovasi pada saat mereka harus melakukannya, jadi ambil semangat itu untuk menemukan solusi mengurangi stres karyawan," ujarnya.

Misalnya, fleksibilitas yang lebih besar dapat berarti menerapkan empat hari kerja dalam seminggu, yang telah terbukti efektif dalam studi kasus di Islandia hingga Microsoft di Jepang. Pemimpin perusahaan dapat mendorong karyawan untuk mengambil cuti dengan memberi insentif atau mengingatkan karyawan untuk sering beristirahat.

Selain itu, membuat model batasan kehidupan kerja yang lebih baik dengan tidak mengirim email atau instruksi di luar jam kerja. Wright menuturkan, perusahaan dapat membayar pekerja dengan upah yang lebih baik dengan merestrukturisasi kebijakan kompensasi eksekutif, dan pengusaha harus memberikan lebih banyak pelatihan serta jalur promosi untuk mempertahankan karyawan dalam karier jangka panjang.

"Ada ruang untuk membuat perubahan jika mereka dapat merefleksikan apa yang mereka hargai dan bagaimana mempertahankan karyawan mereka. Pada akhirnya, jika mempertahankan status quo, yang kita lihat dari survei ini adalah karyawan akan pergi. Itu pasti meresahkan pengusaha. Tetapi dengan satu setengah tahun terakhir, kami telah melihat berinvestasi pada karyawan adalah taruhan yang aman," tutur Wright.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini