Soal Pangan, Mentan: Mau Sampai Kapan Indonesia Bergantung pada Negara Lain?

Michelle Natalia, Jurnalis · Senin 25 Oktober 2021 14:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 25 320 2491322 soal-pangan-mentan-mau-sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-negara-lain-2pvajfO9r8.jpg Mentan (Foto: Dok Kementan)

JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pemanasan global mengancam sektor pertanian. Untuk itu, Indonesia harus bisa mandiri di sektor pertanian agar tidak bergantung pada negara lain.

"Negeri ini masa harus sampai bergantung terus dengan negara lain? Para bupati, yuk kita buat padi, jagung, kedelai, harus menjadi bagian yang kita pikirkan, dan di Hari Pangan Sedunia, bagi saya, besok, tantangan dari global warming, kekeringan dan kemarau dengan banjir terus berdatangan tanpa kendali, kita sudah melihat hal seperti itu, dan ini yang harus menjadi upaya bersama untuk bisa kita lakukan," kata Mentan dalam perayaan Hari Pangan Sedunia Ke-41 secara virtual, Jakarta, Senin (25/10/2021).

Baca Juga: Hari Pangan Sedunia, Mentan: Bersyukur Tidak Ada Rakyat Mati Kelaparan

Mentan mengingatkan bahwa pertanian Indonesia dengan alam yang diberikan Allah SWT tidak akan menghasilkan jika negara, pemerintah, dan semua pihak tidak memanfaatkan alam yang bagus dan bersahabat.

"Kurang apa matahari yang terus bersinar? Kurang apa angin yang terus bertiup? Kurang apa air yang mengalir di mana mana dan turun setiap saat? Kalau begitu mereka tinggal menunggu kerja kita, dan kita perlu mengakselerasinya. Tunggu mengkonsepsikannya, menunggu kerjasama seluruh tangan dan institusi yang ada," katanya.

Menurutnya, alam Indonesia menunggu kita membangun budaya pertanian yang lebih agresif, bersemangat, menggunakan kemampuan kemampuan science research dan teknologi baru, dan tentu saja pihak-pihak tertentu membutuhkan tangan bantuan kepada petani, semua pihak untuk mendorong pertanian. Karena pertanian, kebutuhan Indonesia hari ini, besok, dan masa yang akan datang.

Dia menekankan bahwa di hari esok tantangan masih sangat panjang, besok masih menghadapi perubahan iklim, masih menghadapi pemanasan global, masih akan menghadapi gunung es cair, air permukaan yang naik, dan anomali cuaca yang sangat ekstrim.

Indonesia berada di tengah dua benua, di mana angin terus berputar berkeliling membawa awan, air, dan jangankan besok, hari ini kalau kita sudah rasakan banjir dimana mana, itulah bawaan anomali, bawaan global warming, itulah bawaan yang dari macam macam siklus cuaca yang ada.

"Besok tantangan kita sangat besar, kalau begitu antisipasi dan kekuatan dari Hari Pangan Sedunia ke-41 harus menjadi bagian dari momentum konsolidasi emosional anak bangsa dan kita semua. Hadirkan pertanian dalam hati, pikiran, dan gerak kita semua, karena pertanian adalah kehidupan, pertanian membawa kita sehat, pertanian membawa lapangan kerja yang banyak," ungkap SYL.

Dia menyampaikan, bukankah pertanian lapangan pekerjaan terbesar, sehingga perlu menghadirkan konsolidasi emosional yang ditunggu oleh negara dan rakyat untuk bersinergi.

"Kalau tidak, ya kita adalah bagian penyemangat dari petani, bahwa petani itu hebat, menjadi petani pasti keren, terutama yang muda muda itu. Di depan mata kita terhampar tanah, ada tanaman yang 20 hari, 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 5 bulan, 7 bulan, 1 tahun dan seterusnya, mau pilih mana? Kita punya tanah mulai dataran rendah hingga gunung. Besok kita menghadapi krisis air, ada saatnya kemarau yang tanpa perkiraan, saya jadi ketua G20 bidang Agri dan ini jadi bahan pembicaraan. Besok itu ada krisis air, di tengah banjir," tegas SYL.

Hari ini dan besok, tantangan akan semakin besar. Dia mengingatkan, jangan bayangkan air akan seperti hari ini, ada di mana-mana. Bisa saja air ini hilang.

"Pak Dirjen, di hari Pangan, siapkan air itu, mainkan teknologi yang ada untuk menghadirkan dan mempersiapkan air di saat dia ada, tidak menghambur air saat kita kekeringan. Kalau begitu tidak ada kabupaten yang berpikir tidak ada lembur, irigasi yang irit air, kita berharap besok masih ada upaya upaya menanami pekarangan yang ada, kita butuh tanaman yang besok bisa mengikat tanah dan tetap menyimpan air, seperti pisang, jeruk, kelapa, kopi, dan yang lainnya," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini