Share

Emiten Taipan Prajogo Pangestu, Chandra Asri Buyback Surat Utang USD230 Juta

Senin 08 November 2021 13:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 08 278 2498402 emiten-taipan-prajogo-pangestu-chandra-asri-buyback-surat-utang-usd230-juta-ybXUPElYPu.jpg Chandra Asri Berencana Buyback Saham. (Foto: okezone.com)

JAKARTA - PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) berencana buyback obligasi yang jatuh tempo pada 2024 senilai USD230,18 juta. Pembelian kembali surat utang perusahaan dilakukan untuk mengoptimalkan pengelolaan kas internal

Direktur Chandra Asri Petrochemical, Andre Khor Kah Hin mengatakan, perseroan memilih untuk menebus seluruh surat utang 2024 sebesar USD230,18 juta pada 8 November 2021.

Harga penebusan akan setara 102,475% dari seluruh nilai surat utang, ditambah bunga yang belum dibayar. Di mana bertindak sebagai agen pembayaran surat utang adalah Deutsche Bank Trust Company Americas. Sebagai informasi, obligasi global TPIA yang jatuh tempo pada 2024 ini diterbitkan dengan nilai pokok USD300 juta pada November 2017 dengan kupon 4,95%.

Baca Juga: Chandra Asri, Emiten Miliarder RI Tawarkan Obligasi Tenor Panjang

Sebelumnya pada Mei 2021, emiten milik taipan Prajogo Pangestu telah melakukan buyback obligasi 2024 beserta bunga dengan nilai penebusan USD65,95 juta.

Perseroan menyebutkan, pembelian kembali surat utang perusahaan dilakukan untuk mengoptimalkan pengelolaan kas internal, profil utang dan struktur permodalan perusahaan. Total liabilitas TPIA terpantau turun 7,1% menjadi USD1,656 miliar hingga September 2021, dari USD1,78 miliar pada 31 Desember 2020, terutama karena utang usaha yang lebih rendah. Sementara, utang berbunga lebih tinggi karena fasilitas baru dari bank sebagai bagian dari strategi perseroan dalam ketahanan keuangan.

Baca Juga: Gandeng Aramco Trading, Chandra Asri Tingkatkan Industri Petrokimia

TPIA memiliki total utang sebesar USD920,6 juta, terhadap saldo kas dan setara kas sebesar USD1,68 miliar, sehingga posisi kas bersih secara keseluruhan sebesar USD766,5 juta. Selain itu, perseroan juga mencatatkan pendapatan hingga kuartal tiga 2021 sebesar USD1,88 miliar. Angka itu tumbuh 48% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,26 miliar.

Direktur TPIA, Suryandi pernah bilang, pertumbuhan tersebut karena harga penjualan rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Selama 9 bulan kemarin, harga Polyethylene naik menjadi USD1.229/ton dari periode yang sebelumnya sebesar US$ 860/ton dan juga Polypropylene naik menjadi USD1.447/ton dibandingkan sebelumnya USD969/ton.

"Volume penjualan tetap stabil di level 1.643 KT mencerminkan permintaan yang sehat,"ujarnya, dikutip dari Harian Neraca, Senin (8/11/2021).

Seiring kenaikan pendapatan tersebut, TPIA membukukan EBITDA hingga September 2021 sebesar USD314 juta. Realisasi itu tumbuh 379% dari USD66 juta selama periode yang sama 2020. Marjin EBITDA meningkat menjadi 16,7%, dibandingkan 5,2% pada kuartal III-2020.

"Peningkatan EBITDA itu seiring peningkatan spreads, permintaan yang kuat untuk petrokimia Asia, gangguan pasokan di pasar AS, kekurangan kontainer, dan eksekusi yang solid dari strategi ketahanan keuangan perseroan," sebutnya.

Hingga kuartal III-2021 perusahaan berhasil memperbaiki kinerja bottom line dengan mencatatkan laba bersih setelah pajak sebesar USD166 juta. Padahal, periode yang sama tahun lalu perusahaan dengan bidang usaha petrokimia itu membukukan rugi bersih sebesar USD19 juta.

Total aset TPIA meningkat 27,8% menjadi USD4,59 miliar per 30 September 2021, dari USD3,59 miliar pada 31 Desember 2020. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh keberhasilan proses rights issue yang menghasilkan kas dan setara kas yang lebih tinggi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini