Share

Terungkap! Garuda Indonesia Punya Utang Rp290 Miliar ke AP I

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Rabu 17 November 2021 14:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 17 320 2503234 terungkap-garuda-indonesia-punya-utang-rp290-miliar-ke-ap-i-rQTcPDC1XX.jpg Garuda Indonesia memiliki utang terhadap Angkasa Pura I (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memiliki utang ke Angkasa Pura I (Persero) sebesar Rp290 miliar. Kewajiban piutang tersebut tercatat sebagai utang operasional.

Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi menyebut, Garuda Indonesia belum memenuhi kewajibannya saat menggunakan bandar udara (bandara) sebagai operasional pesawat di bawa pengelolaan perseroan.

Baca Juga: Penerbangan Garuda Indonesia Bakal Langka, Bisnis AP I Ikutan Rugi

Meski begitu, kedua pihak telah menyepakati penjadwalan pembayaran utang tersebut. Faik sendiri enggan menyebut waktu pasti penjadwalan yang dimaksud.

"Utang ke kita itu utang yang operasional. Mereka beroperasi di bandara kita, kalau kita hitung sekitar Rp290 miliar yang kita sepakati untuk penjadwalan terkait dengan pembayaran," ujar Faik saat ditemui di kawasan Pos Blok, Jakarta Pusat, Rabu (17/11/2021).

Baca Juga: Heboh Kabar Pilot Garuda Indonesia Pindah ke Citilink

Angkasa Pura I merupakan kreditur lokal yang memiliki piutang terhadap emiten dengan kode saham GIAA itu. Perseroan sendiri sudah memberikan keringanan terhadap Garuda melakukan proses restrukturisasi utangnya dalam skema cicilan balloon payment sampai dengan 2023. Keringan itu dilakukan sejak 2020 lalu.

Selain, Angkasa Pura I, ada 10 entitas pelat merah lain yang menjadi kreditur lokal Garuda Indonesia. Ke-10 perusahaan pun telah memberikan keringan dalam bentuk penangguhan pokok bunga dengan tenggat waktu yang ditetapkan.

"Ada tahapannya (restrukturisasi), tapi gak, kita memang melakukan perpanjangan masa pembayaran," kata Faik.

Untuk kreditur dan lessor, manajemen Garuda Indonesia telah menyampaikan skema proposal restrukturisasi utangnya. Adapun total utang perusahaan mencapai USD9,8 miliar atau setara Rp139 triliun.

Usai penyerahan tersebut, lessor dan kreditur akan meninjau ulang isi proposal yang ditawarkan manajemen emiten dengan kode saham GIAA itu. Ada dua kemungkinan proposal diterima atau ditolak lessor dan kreditur.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra menyebut, penyerahan proposal sebagai langkah maju untuk menangani permasalahan keuangan perusahaan. Artinya, penyampaian skema proposal restrukturisasi utang menjadi awal dari keseluruhan proses restrukturisasi.

“Proposal ini menguraikan rencana jangka panjang bisnis Garuda serta sejumlah penawaran dalam pengelolaan kewajiban bisnis kami dengan para lessor, kreditur, dan para pemasok utama," ungkap Irfan.

Skema proposal restrukturisasi utang disampaikan melalui kanal data digital yang dapat diakses secara real time oleh seluruh lessor, kreditur, maupun pihak terkait lainnya. Dimana, mengacu pada ketentuan non-disclosure agreement yang telah disepakati seluruh pihak.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini