Mengawali dengan membeli pompa dan mengebor air sumur, Akmal kemudian membangun dapur di bagian belakang rumah dan meninggikan.
Setelahnya ia merenovasi bagian depan untuk garasi kendaraan. Meski demikian, Akmal mengakui rumah subsidi sendiri sebenarnya telah layak huni saat serah terima kunci. Hanya saja kondisinya yang terbatas, menjadikan dirinya memilih untuk membangun rumah secara bertahap.
"Tapi ada banyak tetangga saya yang tinggal setelah serah terima kunci," katanya.
Sedangkan di sisi lain, di masa pemerintahan Jokowi. Program 1.000 unit rumah di tiap provinsi mulai digencarkan. Jakarta pun masuk dalam bagian program itu.
Namun, karena harga tanah yang mahal membuat Jakarta berbeda dengan provinsi lainnya, tercatat di Jakarta pembangunan rumah subsidi fokus pada hunian vertikal.
Toni (30) telah membeli apartement di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat sejak 2016 lalu melalui program subsidi pemerintah.
Dengan cicilan hanya Rp1,3 juta per bulannya, Toni menilai sangat cocok dibandingkan dirinya harus kost atau membeli rumah tapak dipinggiran Ibu Kota.
"Ngekost bukan milik sendiri. Kalau cari rumah tapak di Bogor, tentu akan membuat saya cepat lelah," katanya.
Hanya saja dalam mendapatkan rumah subsidi Toni menyadari kualitas yang didapat. Selain hanya mendapatkan unit studio tanpa kamar, Toni mengatakan kualitas pelayanan apartement di tempatnya tak sebaik apartement lainnya.
Keluhan akan pelayanan management sering kali didapat mulai dari air yang kotor, listrik yang mati nyala, hingga quick respon saat terjadi permasalahan.
Meski demikian, ia bersyukur beruntung mendapatkan apartement itu. Selain harganya murah, Toni mengakui penghasilan bulanannya bisa ia sisihkan untuk mendapatkan tambahan uang di kemudian hari mencicil rumah tapak.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.