Share

Hunian Rumah Subsidi di Pinggiran Jakarta Jadi Pilihan Milenial

Mohamad Yan Yusuf, Jurnalis · Rabu 08 Desember 2021 17:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 08 470 2513988 hunian-rumah-subsidi-di-pinggiran-jakarta-jadi-pilihan-milenial-ltmNoQrhIy.jpg Rumah Subsidi Bagi Milenial (Foto: Okezone/Shutterstock)

JAKARTA - Harga rumah bersubsidi di pinggiran Jakarta menjadi alternatif generasi milenial untuk membeli rumah. Dibandingkan memiliki rumah di Ibu Kota.

Harganya yang murah, serta dukungan subsidi menjadi alasan para mereka berinvestasi dan tinggal di area tersebut.

Meski demikian, membeli rumah dengan harga murah tentu akan banyak risiko. Selain jarak antara rumah dengan kantor yang jauh, bangunan pada rumah subsidi takkan sebaik kualitasanya pada rumah KPR.

"Saat pertama menempati, ada beberapa atap yang bocor dengan kondisi tembok yang lembab," kata Gerdiansyah (33) salah satu pembeli rumah subsidi, Rabu (8/12/2021).

Baca Juga: Banyak Tiang Kecil di Trotoar, Netizen: Jadi Sulit Parkir

Gerdi, panggilan akrabnya, sejak 2017 lalu telah membeli rumah di kawasan Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat. Selama itu pula ia perlu tambahan ekstra sebelum menempati rumahnya bersama istri dan anaknya.

"Saya harus beli mesin pompa air dan membangun tembok rumah belakang terlebih dahulu," katanya.

Belum lagi jarak yang mencapai puluhan kilometer dari rumah menuju tempat kerjanya di kantor Walikota Jakarta Selatan. Jarak yang lumayan membuat dirinya terpaksa bangun pagi saat berangkat ke kantor.

Hal berbeda justru dialami Akmal (31). Karyawan swasta ini memilih mencicil untuk membangun rumah subsidinya sebelum dirinya menempati rumah tersebut di kawasan Parung Bogor.

Baca Juga: Harga Rumah Naik Terbatas, Penjualan Lesu di Kuartal III

Akmal mengakui, apapun jenisnya, baik subsidi maupun KPR bagian belakang rumah tidak akan lengkap. Ia memerlukan uang puluhan juta untuk merenovasi rumah agar lebih nyaman.

Mengawali dengan membeli pompa dan mengebor air sumur, Akmal kemudian membangun dapur di bagian belakang rumah dan meninggikan.

Setelahnya ia merenovasi bagian depan untuk garasi kendaraan. Meski demikian, Akmal mengakui rumah subsidi sendiri sebenarnya telah layak huni saat serah terima kunci. Hanya saja kondisinya yang terbatas, menjadikan dirinya memilih untuk membangun rumah secara bertahap.

"Tapi ada banyak tetangga saya yang tinggal setelah serah terima kunci," katanya.

Sedangkan di sisi lain, di masa pemerintahan Jokowi. Program 1.000 unit rumah di tiap provinsi mulai digencarkan. Jakarta pun masuk dalam bagian program itu.

Namun, karena harga tanah yang mahal membuat Jakarta berbeda dengan provinsi lainnya, tercatat di Jakarta pembangunan rumah subsidi fokus pada hunian vertikal.

Toni (30) telah membeli apartement di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat sejak 2016 lalu melalui program subsidi pemerintah.

Dengan cicilan hanya Rp1,3 juta per bulannya, Toni menilai sangat cocok dibandingkan dirinya harus kost atau membeli rumah tapak dipinggiran Ibu Kota.

"Ngekost bukan milik sendiri. Kalau cari rumah tapak di Bogor, tentu akan membuat saya cepat lelah," katanya.

Hanya saja dalam mendapatkan rumah subsidi Toni menyadari kualitas yang didapat. Selain hanya mendapatkan unit studio tanpa kamar, Toni mengatakan kualitas pelayanan apartement di tempatnya tak sebaik apartement lainnya.

Keluhan akan pelayanan management sering kali didapat mulai dari air yang kotor, listrik yang mati nyala, hingga quick respon saat terjadi permasalahan.

Meski demikian, ia bersyukur beruntung mendapatkan apartement itu. Selain harganya murah, Toni mengakui penghasilan bulanannya bisa ia sisihkan untuk mendapatkan tambahan uang di kemudian hari mencicil rumah tapak.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini