Share

Sri Lanka Bayar Utang Minyak Rp3 Triliun dengan Teh

Jum'at 24 Desember 2021 08:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 24 320 2521853 sri-lanka-bayar-utang-minyak-rp3-triliun-dengan-teh-6X2pfB2n5C.jpg Sri Lanka Bayar Utang Minyak dengan Teh. (Foto: Okezone.com/Kementan)

JAKARTA - Sri Lanka berencana membayar utang impor minyak dari Iran dengan teh. Menteri Perkebunan Sri Lanka Ramesh Pathirana mengatakan bahwa negaranya berharap dapat mengirimkan teh senilai USD5 juta atau setara Rp71,2 miliar ke Iran setiap bulan untuk melunasi utang USD251 juta atau setara Rp3,06 triliun.

Sri Lanka mengalami krisis utang dan valuta asing yang parah, yang telah diperburuk oleh hilangnya pendapatan dari wisatawan selama pandemi virus corona. Rencana ini pun yang pertama kalinya teh dibarter untuk melunasi utang luar negeri.

Pathirana mengatakan, metode pembayaran ini tidak akan melanggar sanksi PBB atau Amerika, karena teh dikategorikan sebagai makanan atas dasar kemanusiaan, dan tidak ada bank-bank Iran dalam daftar hitam yang akan terlibat.

Baca Juga: Barter dengan Teh, Sri Lanka Akan Lunasi Utang Minyak Iran Sebesar Rp3,6 Triliun

"Kami berharap dapat mengirimkan teh senilai USd5 juta setiap bulan untuk membayar Iran atas pembelian minyak yang tertunda sejak empat tahun terakhir," katanya dilansir dari BBC Indonesia, Jumat (24/12/2021).

Kementerian Perkebunan mengatakan usulan skema pembayaran ini akan menghemat mata uang asing Sri Lanka yang sangat dibutuhkan karena pembayaran ke Iran akan dilakukan dalam rupee Sri Lanka melalui penjualan Teh Ceylon.

Namun Juru Bicara Asosiasi Pekebun Ceylon, atau perusahaan perkebunan besar di Sri Lanka, mengatakan mode transaksi ini adalah "solusi plester oleh pemerintah".

Baca Juga: Menteri Dalam Negeri Australia Akan Kunjungi Indonesia, Sri Lanka dan AS

"Itu belum tentu akan menguntungkan eksportir karena kami akan dibayar dalam rupee, menghindari pasar bebas, dan tidak memberikan nilai nyata bagi kami," tambah Roshan Rajadurai.

Sri Lanka dilaporkan harus memenuhi sekitar USD4,5 miliar (Rp64 triliun) dalam pembayaran utang tahun depan, dimulai dengan pembayaran obligasi negara internasional senilai USD500 juta (Rp7 triliun lebih) pada bulan Januari.

Namun, cadangan devisa negara itu berkurang menjadi USD1,6 miliar pada akhir November, menurut data terbaru dari bank sentral.

Gubernur Bank Sentral Ajith Nivard Cabraal mengatakan awal bulan ini bahwa Sri Lanka yakin dapat dengan mulus membayar semua utang negara yang jatuh tempo pada tahun 2022.

Sri Lanka memproduksi sekitar 340 juta kg teh setiap tahun. Tahun lalu negara itu mengekspor 265,5 juta kg, dengan pendapatan USD1,24 miliar pada tahun 2020.

Hampir 5% dari populasi Sri Lanka bekerja di industri bernilai miliaran dolar itu, memetik daun di lereng gunung dan memproses teh di pabrik perkebunan.

Indonesia pernah barter pesawat dengan beras ketan Thailand

Barter komoditas seperti itu sebenarnya sudah lazim dan sering dilakukan oleh banyak negara. Bahkan, secara historis pertukaran barang dan jasa mendahului penggunaan uang dan diyakini berkembang sejak masyarakat sosial pertama. Kini, sistem barter identik dengan negara-negara yang bergejolak.

Sistem barter juga terkadang digunakan oleh perusahaan-perusahaan, seperti produsen pesawat Indonesia, Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang menukar dua pesawatnya dengan 110.000 ton beras ketan dari Thailand pada 1996. Hanya itu yang ditawarkan oleh para penjual Thailand saat itu.

Merujuk pada keputusan Indonesia yang menukar pesawat buatannya demi beras ketan Thailand, ekonom Travis Taylor mengatakan perusahaan itu pada dasarnya hanya ingin transaksi berjalan.

 "Dalam kasus itu, transaksi itu pada dasarnya hanya sekedar membangun reputasi [di pasar yang baru]," ujar Taylor yang merupakan profesor ekonomi di Universitas Christopher Newport di Virginia.

"Tidak ada yang mau terjebak dengan berton-ton beras ketan. Tetapi perusahaan ini juga menginginkan bukti bahwa pesawat itu bisa dijual. Jadi mereka tidak bisa pilih-pilih."

Lalu Malaysia pada 1990an membarter kepala sawitnya dengan pesawat tempur Rusia.

Hal yang serupa juga dilakukan oleh perusahaan raksasa asal AS, Pepsi yang menukar minuman bersodanya dengan saus tomat Uni Soviet, agar bisa masuk ke pasar negara itu pada 1970an.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini