Share

Harga, Lokasi hingga Transportasi Jadi Pertimbangan Masyarakat Beli Rumah di 2022

Erlinda Septiawati, Jurnalis · Kamis 30 Desember 2021 14:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 30 470 2524964 harga-lokasi-hingga-transportasi-jadi-pertimbangan-masyarakat-beli-rumah-di-2022-nAdK8GEhB9.jpeg Tren Pembelian Rumah di 2022 (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Hal-hal ini yang akan menjadi pertimbangan masyarakat membeli rumah pada 2022.

Pada 2021, berbagai stimulus dan kebijakan pemerintah berhasil meningkatkan minat konsumen untuk melakukan transaksi pembelian properti. Selain insentif Pemerintah, proyek infrastruktur transportasi juga turut menjadi daya tarik bagi konsumen, khususnya jalan tol yang menghubungkan kawasan hunian dengan pusat kota.

Meskipun minat masyarakat terhadap properti kelas menengah atas di pusat kota meningkat, namun minat konsumen properti pada tahun 2022 masih akan tertuju pada kawasan-kawasan penyangga kota-kota besar (suburban).

"Selain harga, infrastruktur transportasi, kelengkapan fasilitas umum seperti pusat perbelanjaan, fasilitas kesehatan dan pendidikan masih akan menjadi daya tarik utama," kata Country Manager Rumah.com Marine Novita dalam risetnya, Jakarta, Kamis (30/12/2021).

Baca Juga: Anak Umur 6 Tahun Beli Rumah Rp9 Miliar, Begini Kisahnya

Wilayah prospektif yang pertama adalah Tangerang Raya. Kecamatan Cipondoh dan Karang Tengah menjadi dua area yang paling prospektif di Kota Tangerang tahun ini. Berdasarkan data Rumah.com Indonesia Property Market Index (RIPMI), pada kuartal ketiga 2021, indeks harga properti di Cipondoh naik 29 persen secara tahunan, sementara Karang Tengah mencatat kenaikan indeks harga sebesar 41 persen juga secara tahunan.

Lokasi Cipondoh yang berbatasan langsung dengan Jakarta Barat sangat menguntungkan. Beragam fasilitas umum seperti mal, pusat perbelanjaan, dan fasilitas kesehatan kelas menengah atas dapat diakses penghuni di area ini dengan mudah.

Cipondoh memiliki kawasan reservasi dan kawasan hijau di Situ Cipondoh sehingga sangat ideal bagi pencari properti yang ingin hunian dekat ibu kota namun dengan kualitas udara dan lingkungan hidup yang lebih baik. Cipondoh juga memiliki akses KRL Commuter Line dan KA Bandara di Stasiun Batuceper serta akses tol Cengkareng-Batuceper-Kunciran.

Sedangkan Kecamatan Karang Tengah terhubung dengan tol Jakarta-Tangerang-Merak. Terdapat tiga rumah sakit besar di area ini. Karang Tengah juga berbatasan langsung dengan Jakarta Barat sehingga warganya dapat dimanjakan oleh fasilitas umum yang lengkap.

Kedua wilayah ini memiliki fasilitas umum yang lengkap dan beragam pilihan akses transportasi umum dan pribadi. Kebijakan insentif pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dari Pemerintah Kota Tangerang juga menambah daya tarik kedua area tersebut.

Sepanjang 2021, Tangerang Raya tampaknya menjadi kawasan yang paling diuntungkan oleh pembangunan infrastruktur transportasi dimana Pemerintah meresmikan tiga ruas jalan tol yang saling terhubung di wilayah tersebut, yaitu Cengkareng-Kunciran, Kunciran-Serpong, dan Serpong-Pamulang.

Tersedianya akses tol baru tersebut menyebabkan pada kuartal ketiga 2021, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang secara berturut-turut mencatat kenaikan indeks harga properti tahunan sebesar 17,04 persen, 9,21 persen, dan 13,55% berdasarkan data dari Rumah.com Indonesia Property Market Index (RIPMI).

Selanjutnya wilayah prospektif kedua adalah Kota Bogor yang cukup mencuri perhatian konsumen di tahun 2021. Peningkatan jumlah pencarian properti di wilayah ini menjadi yang paling signifikan selama tiga kuartal. Bahkan ketika tren pencarian mengalami penurunan pada kuartal III-2021, Kota Bogor justru mencatatkan kenaikan sebesar 21,84 persen secara kuartalan.

Marine menjelaskan bahwa harga properti Kota Bogor yang cenderung lebih stabil tampaknya menarik minat konsumen di tengah pandemi Covid-19. Fasilitas yang cukup lengkap dengan akses transportasi yang terjangkau juga menjadi keunggulan Kota Bogor. Ketersediaan rumah sakit, mal, pusat perbelanjaan, serta taman hiburan dapat dijangkau dengan mudah dari pusat kota.

Kawasan hijau seperti taman dan hutan kota tersebar di banyak titik. Melakukan perjalanan di Kota Bogor juga kini makin nyaman dengan adanya tol Bogor Outer Ring Road (BORR) dan kehadiran bus kota Trans Pakuan yang jumlahnya sedang diperbanyak untuk menggantikan angkot. Sarana angkutan kereta pun dapat diakses melalui Stasiun Bogor, Stasiun Bogor Paledang, dan Stasiun Batutulis.

Kemudian wilayah prospektif ketiga adalah Kabupaten Gresik. Di Jawa Timur, Kabupaten Gresik berkembang menjadi area paling prospektif di kawasan metropolitan Surabaya atau yang dikenal sebagai Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan). Wilayah yang menghadap Selat Madura dan Laut Jawa ini memiliki potensi untuk menjadi sunrise property didorong oleh perkembangan infrastruktur dan industri di dalamnya.

β€œSaat ini, median harga di Gresik menurut data Rumah.com Indonesia Property Market Index (RIPMI) berada pada kisaran Rp 6,4 jutaan, lebih murah daripada Sidoarjo maupun Bangkalan yang turut menjadi pusat industri di Gerbangkertosusila. Indeks harga properti di Gresik secara kuartalan juga sedang tumbuh sebesar 4,53 persen pada kuartal II-2021 lalu. Indeks ini lebih signifikan daripada wilayah lain di Gerbangkertosusila,” jelas Marine.

Selain itu, Kabupaten Gresik kini dilintasi tiga ruas tol yang terhubung dengan tol Trans Jawa, yakni tol Surabaya-Gresik, Surabaya-Mojokerto, dan Krian-Legundi-Bunder-Manyar (KLBM). Kemudahan akses transportasi darat mempercepat perkembangan wilayah ini, khususnya bagi industri properti dan manufaktur.

Menurut Marine, bagi pencari properti, ketiga wilayah prospektif tersebut bisa menjadi kawasan hunian idaman yang bisa dibeli di tahun 2022 mendatang di mana secara umum masih akan menjadi buyer market. Pembeli akan disuguhi berbagai pilihan properti terbaru dengan tawaran promo, diskon, dan hadiah serta suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) juga relatif masih rendah.

"Tren harga properti akan berangsur normal; meningkat pada setiap kuartal di 2022. Hal ini dapat terjadi dengan catatan bahwa Pemerintah mampu menjaga situasi ekonomi tetap kondusif, serta melanjutkan kebijakan terkait properti dan ekonomi seperti restrukturisasi kredit, relaksasi LTV, dan terutama penurunan suku bunga,” jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini