Share

Ketergantungan Impor Bahan Baku Mamin Jadi Tantangan Industri 2022

Oktiani Endarwati, Koran SI · Senin 03 Januari 2022 14:21 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 03 320 2526710 ketergantungan-impor-bahan-baku-mamin-jadi-tantangan-industri-2022-R8qg1BCmQn.jpg Tantangan Industri Mamin 2022, (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Impor bahan baku menjadi tantangan bagi industri makanan dan minuman (mamin) di tahun ini. Rata-rata bahan baku industri makanan minuman masih impor mulai dari terigu, kedelai hingga gula industri.

"Inilah ke depan kita harus pikirkan bagaimana meningkatkan produksi dalam negeri supaya ketergantungan terhadap impor tidak terlalu tinggi. Bahan baku ini menjadi yang utama di dalam produksi makanan minuman," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, dalam Market Review IDX Channel, Senin (3/1/2022).

Baca Juga: Industri Mamin Diproyeksi 'Kebal' Covid-19 di 2022

Dia melanjutkan, tingginya harga bahan baku menjadi tantangan bagi industri makanan dan minuman saat ini. Menurut dia, selama pandemi Covid-19 terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan akibat adanya lockdown di beberapa negara.

"Di satu negara tertentu permintaannya melonjak sangat cepat sekali setelah lockdown. Kemudian di negara produsen tertentu ini agak lambat pertumbuhannya. Inilah yang menyebabkan ketidakseimbangan sehingga terjadi kenaikan yang mendadak. FAO melaporkan bahwa kenaikan harga komoditi pangan rata-rata sebesar 33% tahun lalu," jelasnya.

Baca Juga: Ekspor Industri Mamin Tembus USD32,5 Miliar, Naik 52%

Untuk itu Indonesia perlu mencari alternatif bahan baku dari dalam negeri maupun luar negeri yang tidak mengurangi mutu, tetapi bisa lebih efisien dan lebih murah.

Baca Juga: Hadirkan Acara Meet Eat Inspire, Hypernet Technologies Tawarkan Layanan untuk Produk Server dan Storage

Follow Berita Okezone di Google News

"Ini tantangan terbesar dari industri mamin. Karena selama tahun lalu itu ternyata bukan hanya bahan baku utama saja yang naik, tapi bahan baku mikro seperti bahan tambahan pangan itu semua naik mulai dari flavor, pewarna dan lain sebagainya," jelasnya.

Tantangan lainnya adalah menjaga alternatif logistik yang lebih murah. Bahkan biaya pengapalan bisa sampai 5-6 kali lipat untuk negara-negara yang tujuannya semakin jauh.

"Kemudian yang harus kita kembangkan adalah bagaimana kita memasarkan produk di era digital ini. Kita harus ikut berubah supaya bisa terus menyebar produk-produk kita sehingga kita bisa mencapai pertumbuhan yang diharapkan," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini