JAKARTA - Impor bahan baku menjadi tantangan bagi industri makanan dan minuman (mamin) di tahun ini. Rata-rata bahan baku industri makanan minuman masih impor mulai dari terigu, kedelai hingga gula industri.
"Inilah ke depan kita harus pikirkan bagaimana meningkatkan produksi dalam negeri supaya ketergantungan terhadap impor tidak terlalu tinggi. Bahan baku ini menjadi yang utama di dalam produksi makanan minuman," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, dalam Market Review IDX Channel, Senin (3/1/2022).
Baca Juga: Industri Mamin Diproyeksi 'Kebal' Covid-19 di 2022
Dia melanjutkan, tingginya harga bahan baku menjadi tantangan bagi industri makanan dan minuman saat ini. Menurut dia, selama pandemi Covid-19 terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan akibat adanya lockdown di beberapa negara.
"Di satu negara tertentu permintaannya melonjak sangat cepat sekali setelah lockdown. Kemudian di negara produsen tertentu ini agak lambat pertumbuhannya. Inilah yang menyebabkan ketidakseimbangan sehingga terjadi kenaikan yang mendadak. FAO melaporkan bahwa kenaikan harga komoditi pangan rata-rata sebesar 33% tahun lalu," jelasnya.
Baca Juga: Ekspor Industri Mamin Tembus USD32,5 Miliar, Naik 52%
Untuk itu Indonesia perlu mencari alternatif bahan baku dari dalam negeri maupun luar negeri yang tidak mengurangi mutu, tetapi bisa lebih efisien dan lebih murah.
"Ini tantangan terbesar dari industri mamin. Karena selama tahun lalu itu ternyata bukan hanya bahan baku utama saja yang naik, tapi bahan baku mikro seperti bahan tambahan pangan itu semua naik mulai dari flavor, pewarna dan lain sebagainya," jelasnya.
Tantangan lainnya adalah menjaga alternatif logistik yang lebih murah. Bahkan biaya pengapalan bisa sampai 5-6 kali lipat untuk negara-negara yang tujuannya semakin jauh.
"Kemudian yang harus kita kembangkan adalah bagaimana kita memasarkan produk di era digital ini. Kita harus ikut berubah supaya bisa terus menyebar produk-produk kita sehingga kita bisa mencapai pertumbuhan yang diharapkan," pungkasnya.
(Feby Novalius)