Share

Tak Disangka! Eceng Gondok Bisa Jadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Agregasi VOA, Jurnalis · Senin 03 Januari 2022 09:27 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 03 455 2526524 tak-disangka-eceng-gondok-bisa-jadi-bahan-bakar-ramah-lingkungan-ghGqhLPbwu.JPG Eceng Gondok jadi bahan bakar ramah lingkungan (Foto: MPI)

JAKARTA - Siapa sangka tanaman eceng gondok yang kerap ditemui di danau, rawa maupun sungai bisa menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Sebuah perusahaan pemasok energi ramah lingkungan berbasis di Nairobi mengubah tanaman eceng gondok menjadi bahan bakar bersih untuk memasak bagi warga Kenya.

Diharapkan proyek ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan kayu bakar, yang menambah emisi gas rumah kaca. Penggunaan kayu bakar juga mengganggu kesehatan mereka yang menghirupnya.

Baca Juga: 23 Wisatawan Terjebak, Petugas Bersihkan Eceng Gondok di Waduk Jatiluhur

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun hampir empat juta orang meninggal sebelum waktunya karena penyakit terkait polusi udara rumah tangga akibat praktik memasak yang tidak efisien, penggunaan tungku pembuat polusi serta bahan bakar padat dan minyak tanah.

Di pinggiran Danau Victoria, pemasok energi hijau berbasis di Nairobi, Biogas International membuat proyek percontohan yang mengubah eceng gondok menjadi bahan bakar untuk memasak. Para pekerja memanen tanaman invasif itu, kemudian menggilingnya dengan mesin untuk menghasilkan campuran yang dimasukkan ke mesin pengolah biogas.

Baca Juga: Tersangkut Eceng Gondok, Perahu Bawa 23 Penumpang Terjebak di Waduk Jatiluhur

Supervisor di fasilitas Biogas Internasional Daniel Odhiambo mengatakan, sebagian orang yang belum menyadari manfaat eceng gondok menganggapnya sebagai โ€˜kutukan.โ€™ Padahal eceng gondok dapat membersihkan air, menjadi bahan biogas, bahan baku membuat kertas, kursi dan furnitur lainnya.

Melalui kemitraan dengan perusahaan farmasi raksasa AstraZeneca, Biogas International melarang penggunaan bahan bakar kayu. Mereka memberi pengolah biogas untuk 50 keluarga di Kisumu, Kenya.

"Di Afrika, 70 sampai 80% populasi di sub-Sahara menggunakan bahan bakar kayu. Sementara itu ada banyak spesies invasif ini di sekitar kita. Kalau kita menebang pohon untuk dijadikan arang atau kayu bakar, kita mengurangi penyerap karbon," ujar CEO Biogas International Dominic Kahumbu.

Menurut Kahumbu, sebagian besar pengolah biogas diberikan kepada warga lansia yang rentan mengidap gangguan kesehatan akibat asap dari bahan bakar kayu.

Eceng gondok telah menyelimuti Danau Victoria dan berdampak negatif terhadap ekosistem karena menghalangi makhluk hidup di danau itu mendapatkan cukup cahaya matahari. Tanaman ini juga mendorong perkembangbiakan nyamuk di sekitar Danau Victoria. Tetapi Kahumbu mengatakan eceng gondok memiliki beberapa manfaat.

"Manfaat terbesar eceng gondok adalah menghasilkan biogas yang sangat baik. Zat-zat gizi yang masuk sungai dari berbagai kota sampai ke hilir, berakhir di danau. Eceng gondok menyerap zat-zat gizi itu. Kita memanen eceng gondok, kita dapatkan kembali zat-zat gizi, dan kita juga mendapatkan energi," katanya.

Menurut pedagang ikan di tepian Danau Victoria, biogas lebih murah daripada kayu bakar. Esther Ongoye mengatakan setiap hari ia mengeluarkan 600 shilings untuk kayu bakar, sedangkan rekannya yang membeli biogas mengeluarkan 300 shilings. Sayangnya biogas tidak mudah tersedia sehingga ia masih menggunakan kayu bakar.

Menurut Kahumbu, biaya memasang sistem pengolah biogas sekitar 650 dolar, harga yang tidak terjangkau bagi banyak orang Kenya.

Menurut LSM Environmental Defense Fund, biogas biasanya terdiri dari dua per tiga metana dan sepertiga karbon dioksida, keduanya polutan iklim.

Membakarnya masih menciptakan emisi karbon dioksida. Tetapi karena biogas berasal dari tanaman, dalam hal ini eceng gondok, yang secara alami menyingkirkan karbon dioksida dari atmosfer, emisi karbon dioksida secara umum dianggap netral iklim karena relatif sedikit saja karbon fosil yang ditambahkan ke atmosfer.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini