Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

China Lockdown, Warga Kota Ini Barter Barang Elektronik demi Mi Instan dan Bakpao

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Rabu, 05 Januari 2022 |06:29 WIB
China <i>Lockdown</i>, Warga Kota Ini Barter Barang Elektronik demi Mi Instan dan Bakpao
China kembali terapkan lockdown (Foto: Shutterstock)
A
A
A

Warga kehabisan stok makanan

Saat ini Xi'an berada di pusat wabah Covid di China. Sejak 23 Desember lalu, lebih dari 13 juta jiwa di Kota Xi'an diperintahkan tetap berada di rumah selagi aparat berupaya menghentikan penularan Covid-19.

Oleh karena itu, warga tidak diperbolehkan keluar rumah untuk membeli makanan, kecuali dengan alasan tertentu. Para pegawai negeri pun dikerahkan untuk mendistribusikan bantuan.

Namun, banyak di antara warga bersuara di media sosial. Mereka mengaku sudah kehabisan barang-barang pokok. Baru-baru ini terjadi sebuah insiden di kompleks permukiman Mingde 8 Yingli, sebelah selatan Kota Xi'an.

Sesaat setelah tengah malam pada 1 Januari, mereka diperintahkan meninggalkan rumah dan menuju fasilitas karantina. Pada Selasa (04/01), pemerintah China menempatkan Kota Yuzhou—sejauh 500km dari Xi'an—dalam status karantina ketat alias lockdown.

Sebanyak 1,1 juta penduduk Yuzhou kini harus tetap berada di rumah. Pada Senin (03/01) malam, hampir semua kendaraan dilarang melaju di jalan, dan semua toko kecuali supermarket diperintahkan untuk tutup.

Pada awal karantina wilayah diberlakukan, pemerintah kota membolehkan satu orang per satu rumah keluar setiap dua hari sekali untuk membeli kebutuhan pokok. Akan tetapi, lockdown diperketat pada Senin (27/12), sehingga semua warga tidak diperkenankan ke luar rumah kecuali untuk menjalani tes Covid.

Sejak saat itu, banyak penduduk berkeluh kesah serta meminta bantuan makanan di platform Weibo. Mereka mengklaim belum menerima paket bantuan gratis dari pemerintah.

"Saya dengar distrik lain menerima bantuan secara bertahap, tapi saya tidak menerima apapun. Kompleks kami melarang warga ke luar rumah. Saya memesan sembako secara daring empat hari lalu, tapi tidak ada tanda-tanda paket itu datang. Saya tidak mendapat sayur apapun selama berhari-hari," sebut seorang pengguna media sosial Weibo.

Warganet lainnya berkata: "Pembagian sembako tidak rata. Distrik tempat saya berada belum dapat apa-apa. Kami diminta berkelompok dan memesan bersama. Harganya juga sangat mahal."

Sebuah video yang dibuat pekan ini dan telah beredar di dunia maya memperlihatkan penduduk di salah satu wilayah permukiman Kota Xi'an berdebat dengan polisi soal kekurangan makanan.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement