Share

Sri Lanka Krisis Ekonomi, Punya Banyak Utang ke China! Kehidupan Masyarakatnya Menyedihkan

Kamis 13 Januari 2022 10:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 13 320 2531504 sri-lanka-krisis-ekonomi-punya-banyak-utang-ke-china-kehidupan-masyarakatnya-menyedihkan-1fqLOj2E1M.png Sri Lanka Alami Krisis Ekonomi. (Foto: Okezone.com/BBC Indonesia)

JAKARTA - Sri Lanka dilanda krisis ekonomi dan utang ke China. Masyarakat Sri Lanka juga dihadapkan dengan tingginya harga-harga barang.

"Harga tabung gas untuk memasak naik hampir dua kali lipat dan kami tidak mampu membelinya lagi," kata Masyarakat Niluka Dilrukshi, dikutip dari BBC Indonesia, Kamis (13/1/2022).

Ibu empat anak berusia 31 tahun ini selalu memasak dengan gas untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya, tetapi kayu bakar adalah satu-satunya pilihan.

"Dulu setiap hari saya memasak ikan dan sayuran buat anak-anak saya. Sekarang mereka hanya bisa makan sayuran dan nasi," katanya.

Baca Juga: Sri Lanka Bayar Utang Minyak Rp3 Triliun dengan Teh

"Dulu kami makan tiga kali sehari, sekarang kadang-kadang kami hanya mampu makan dua kali," sambungnya.

Dilrukshi dan keluarganya tinggal di pinggiran Kolombo, Sri Lanka. Suaminya adalah buruh harian tetapi melonjaknya harga kebutuhan pokok, terutama makanan, membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan.

Selama empat bulan terakhir, harga tabung gas standar melonjak sekitar 85%, dari USD7,50 (sekitar Rp107.000) menjadi USD13,25 atau sekitar Rp189.000).

Baca Juga: Barter dengan Teh, Sri Lanka Akan Lunasi Utang Minyak Iran Sebesar Rp3,6 Triliun

Sri Lanka tengah menghadapi krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Cadangan devisanya turun menjadi sekitar USD1,6 miliar (sekitar Rp22,8 triliun) pada akhir November, hanya cukup untuk membayar impor selama beberapa minggu.

Utang ke China pun menumpuk hingga melampaui USD5 miliar (Rp71,7 triliun) untuk pembangunan berbagai proyek infrastruktur, termasuk jalan, bandara, dan pelabuhan.

Akibatnya, pemerintah terpaksa membatasi impor beberapa komoditas penting, termasuk bahan makanan, untuk mempertahankan cadangan dolar vitalnya. Langkah ini, ditambah dengan meningkatnya harga bahan bakar dan angkutan, membuat harga kebutuhan pokok seperti susu bubuk dan beras jauh lebih tinggi.

Biaya hidup yang meroket bukan hanya masalah bagi Sri Lanka. Beberapa negara lain di Asia, seperti India dan Pakistan, juga sedang berjuang melawan lonjakan inflasi.

Situasinya sangat genting di Sri Lanka, karena negara itu sangat bergantung pada impor luar negeri untuk memberi makan penduduknya. Industri susu di negara itu, misalnya, tidak dapat memenuhi permintaan lokal sehingga mengimpor susu bubuk.

Namun di pasar induk sayur-mayur di Kolombo, puluhan pemilik toko menjual banyak persediaan wortel, bit, daun kari, dan sayuran lainnya. Banyak pembeli secara terbuka mengeluh tentang harga yang melonjak dan menawar habis-habisan untuk mendapatkan harga yang lebih murah atau membeli dalam jumlah yang sangat terbatas.

"Dengan gaji bulanan kami saat ini, kami hanya bisa bertahan selama dua minggu karena harga-harga naik. Kami tidak punya harapan untuk masa depan. Harga beras juga naik. Ada antrean panjang di luar toko-toko milik pemerintah," kata salah satu pembeli bernama Swarna.

Pemintaan tinggi terhadap beberapa bahan makanan pokok membuat harga makanan Sri Lanka meningkat dengan rekor 21,1% bulan lalu, dibandingkan dengan waktu yang sama di tahun sebelumnya.

Sementara itu, kenaikan 12,5% harga susu bubuk membuat asosiasi pemilik kafe memutuskan untuk menghentikan penjualan menu populer, seperti teh susu. Mereka mengatakan teh susu hanya akan ditawarkan sesuai permintaan, dengan harga yang lebih tinggi.

"Warga Sri Lanka cukup sensitif terhadap inflasi harga pangan. Kami melihat sudah ada banyak sentimen negatif terkait kendala tersebut," kata Deshal de Mel, ekonom lembaga Verité Research.

"Menurut saya, hal itu mungkin mendekati titik yang tidak bisa toleransi jika kenaikan harga ini terus terjadi," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini