Share

Potensi Ekonomi Digital Indonesia Rp2.100 Triliun, Jokowi: Jangan Diambil Negara Lain

Dita Angga R, Sindonews · Senin 17 Januari 2022 14:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 17 320 2533406 potensi-ekonomi-digital-indonesia-rp2-100-triliun-jokowi-jangan-diambil-negara-lain-pqPM9U05vh.jpg Presiden Jokowi tak ingin pasar ekonomi digital digarap negara lain (Foto: Biro Setpres )

JAKARTA - Potensi ekonomi digital Indonesia mencapai USD146 miliar atau setara Rp2.100 triliun. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan jangan sampai pasar ekonomi digital RI digarap negara lain.

Baca Juga: Menko Airlangga: Wayang Kulit Warisan Budaya Dunia yang Perlu Dilestarikan

Dia mengatakan transformasi ekonomi digital Indonesia adalah salah satu transformasi yang tengah dilakukan pemerintah saat ini. Hal ini mengingat potensi ekonomi digital Indonesia sangat pesat dibandingkan negara-negara di ASEAN.

Baca Juga: Waspada! Serangan Siber Jadi Tantangan Industri Keuangan, Kerugiannya hingga Rp1.433 Triliun

“Pasar digital di Indonesia tumbuh sangat pesat dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Kita prediksi di 2025 pasar digital kita akan meningkat sampai di angka USD 146 Miliar. Ini artinya potensinya Rp. 2.100 triliun. Ini bagian yang muda-muda untuk ngerjain ini. Jangan diambil oleh negara-negara lain,” kata dia dalam acara Dies Natalis ke-67 Universitas Parahyangan, Senin (17/1/2022).

Selain itu saat ini Indonesia memberikan kontribusi signifikan bagi ekonomi digital di Asia Tenggara.

“Kita berkontribusi 40% ekonomi digital kita di Asia Tenggara. Kita memiliki 8 Unicorn. Ini terbanyak di Asia Tenggara. Ada Traveloka, Tokopedia, Bukalapak, dan lain-lain. Dan satu Decacorn kita yaitu Gojek. Jangan ditepuki keras-keras, pemiliknya ada di sini,” ungkapnya.

Jokowi juga mengatakan bahwa pemerintah terus membangun infrastruktur yang akan mendukung transformasi digital . Di 2021 telah dimulai proses konstruksi satelit multifungsi Satria Satu. Kemudian pembangunan BTS yang mulai dilakukan di 12.500 desa dan kelurahan yang belum memiliki akses 4G.

““Farming dan refarming spektrum frekuensi radio yang telah dilakukan untuk optimalisasi kualitas layanan jaringan 4G dan pengembangan jaringan 5G dan untuk menjalankan program analog switch off,” pungkasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini