JAKARTA - Harga minyak goreng di pasar tradisional masih mahal.
Kebijakan harga minyak goreng Rp14.000 per liter nyatanya belum merata di pasar tradisional meski Kementerian Perdagangan telah menetapkan kebijakan minyak goreng satu harga yang diberlakukan kemarin.
Tercatat, harga minyak goreng kemasan di pasar tradisional bilangan Bekasi masih mematok harga Rp20.000 per liter.
Salah satu pedagang sembako, Eka (30) mengaku masih menjual minyak goreng kemasan seharga Rp20.000 per liter dan Rp40.000 ribu untuk ukuran 2 liter. Sebab, harga yang didapat dari sales agen masih dijual dengan harga tinggi.
"Masih harga lama (minyaknya), satu liternya Rp20.000, yang 2 liternya Rp40.000. Saya nggak bisa kasih harga di bawah itu, soalnya dari agennya aja masih mahal," ujar Eka kepada MNC Portal Indonesia saat ditemui di lokasi, Kamis (27/1/2022).
Baca Juga: Minyak Goreng Rp14.000 Langka, Kemendag Ungkap Biang Keroknya
Eka menjelaskan, harga minyak goreng 1 karton berisi 12 kemasan ukuran 1 liter sebesar Rp 224.000. Artinya harga per liternya Rp18.600. Sedangkan untuk ukuran 2 liter per karton isi enam kemasan sebesar Rp232.000. Artinya, harga per kemasan sebesar Rp38.600.
"Jadi yang ukuran 1 liter saya jual Rp20.000 ke pembeli, nah yang 2 liternya Rp40.000. Itu harga yang saya dapat saat ini. Belum ada sales ngasih harga murah," jelas Eka.
Saking mahalnya minyak goreng di tengah harga subsidi Pemerintah, tutur Eka, pembeli sampai berulang kali bertanya ke dirinya. "Bu, minyak kan sudah murah. Kok ini masih mahal," ucapnya memperagakan pembeli di warungnya.
Karena Eka sudah menerangkan sejujurnya kepada pembeli, namun tetap tak percaya, dia sampai menunjukkan struk pembelian minyak goreng yang dibeli melalui sales agen.
"Pembeli tuh masih enggak percaya kalau minyak masih mahal. Dikiranya saya bohong. Saya kasih unjuk aja struk pembelian saya dari sales agen. Setelah itu baru mereka percaya," katanya.
Eka bercerita, ada pedagang makanan yang membeli minyak goreng ditokonya karena tidak kedapatan minyak goreng Rp14.000 di ritel modern.
Padahal, Eka sudah menganjurkan untuk beli di supermarket saja biar bisa beli murah, namun pembeli tersebut sudah pasrah karena setiap antri selalu tidak kedapatan.
"Ada pedagang makanan waktu itu beli minyak di sini. Kasian saya liatnya, bawa uang pas-pasan. Saya saranin aja buat beli minyak di supermarket biar lebih murah harganya. Soalnya di tempat saya masih mahal. Tapi pembeli itu nggak mau datang lagi ke supermarket karena takut nggak dapet lagi sudah antri lama tapi nggak kebagian juga," ungkapnya.
Eka berharap, distribusi minyak goreng satu harga bisa segera terealisasi di pasar tradisional, supaya pembeli yang datang bisa mendapatkan minyak goreng murah seharga Rp 14.000 per liter.
"Semoga cepet ada di pasar. Biar nggak pada komlain terus minyak mahal," katanya.
(Dani Jumadil Akhir)