Share

Duh! 15% Pekerja Milenial Diramal Jadi Pengangguran di 2025

Antara, Jurnalis · Minggu 20 Maret 2022 06:21 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 20 320 2564563 duh-15-pekerja-milenial-diramal-jadi-pengangguran-di-2025-Wct8KhOSI4.jpg Menaker prediksi 15% pekerja jadi pengangguran di tahun 2025. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan RI (Menaker) Ida Fauziyah memprediksi 15 persen pekerja milenial menjadi pengangguran di tahun 2025.

Maka dari itu, dia menyebut gelaran Presidensi G20 mengajak para pekerja muda untuk meningkatkan keterampilan dan daya saing.

Hal ini dapat memberi peluang untuk para pekerja menambah keterampilan, apalagi di tengah kondisi pandemi Covid-19.

 BACA JUGA:Pekerja Wajib Baca! Ini Keuntungan dan Kerugian Sering Pindah Tempat Kerja

“Untuk mempersiapkan generasi muda yang berkualitas, kami menyadari bahwa penting untuk meningkatkan keterampilan dan daya saing bagi para pemuda,” kata Ida dalam Webinar Pre-Summit 1 Y20 Indonesia 2022 yang diikuti di Jakarta, Sabtu (19/3/2022).

Apalagi jumlah penduduk diprediksi akan bertambah sebesar 7 persen pada Tahun 2030.

Kemudian, setelah adanya pandemi Covid-19, telah menyebabkan para pekerja muda harus menghadapi diskriminasi di tempat kerja, rendahnya upah kerja yang diterima hingga menjadi pengangguran dalam beberapa waktu.

Sehingga, melalui G20, para pemuda akan didorong untuk berperan aktif membangun perekonomian yang inklusif, lewat peningkatan keterampilan kerja dan daya saing yang kuat.

Di mana, akan fokus meningkatkan partisipasi para pemuda untuk menjadi seorang wirausahawan yang dapat menciptakan lapangan kerja baru yang sesuai dengan potensi daerah masing-masing.

“Pemerintah Indonesia juga terus mendorong para pemuda untuk menjadi wirausahawan yang mandiri, bahkan melipatgandakan penciptaan lapangan kerja dan kesempatan bagi orang lain,” jelasnya.

Tak hanya itu, tapi juga bisa meningkatkan partisipasi pemuda menjadi wirausahawan, katanya, pemerintah juga membangun area bisnis baru dalam beberapa sektor, seperti pengembangan bisnis makanan, minuman hingga furniture, agar peluang pekerjaan tetap terbuka.

Adapun program-program yang diberikan berupa pelatihan kerja, menurut dia, ikut diberikan agar semua pekerja terlibat dalam pembangunan ekonomi yang inklusif, juga mendorong terciptanya kesetaraan di tempat kerja, serta kesenjangan antarpekerja perempuan dan laki-laki tidak terjadi.

Nantinya, program pelatihan, juga dimaksudkan agar setiap pekerja muda terbekali dengan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan pendidikan dan kemajuan teknologi.

 BACA JUGA:5 Tips Hidup Seimbang dengan Pekerjaan, Lakukan Sesuatu yang Menyenangkan

Dia menjelaskan, Indonesia berupaya untuk memulihkan dampak dari pandemi Covid-19 pada para tenaga kerja lewat kerja sama konkret yang dibangun dengan para pemangku kepentingan lainnya.

“Melalui semangat gotong royong dan kolaborasi ini, perlu kita tingkatkan upaya untuk mendorong kebijakan nasional dan pemberdayaan pemuda agar mereka dapat berkembang dan memiliki peluang yang lebih baik di tempat kerja,” tutunya.

Diharapkan, negara akan mengedepankan komunikasi dan nilai gotong royong, salah satunya dengan memadukan pendataan dan memberikan pelatihan keterampilan kerja bagi pekerja muda.

Agar ke depannya mereka dapat bekerja sebagai pekerja produktif yang bisa menghasilkan pendapatan untuk masa depan dan keluarganya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini