Share

4 Perusahaan Besar yang Menguasai Pasar Minyak Goreng di RI

Shelma Rachmahyanti, MNC Media · Rabu 23 Maret 2022 11:47 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 23 320 2566356 4-perusahaan-besar-yang-menguasai-pasar-minyak-goreng-di-ri-l5NT5sxfev.png 4 Perusahaaan Besar Kuasai Pasar Minyak Goreng (Foto: MPI)

JAKARTA – Ada empat perusahaan besar yang menguasai pasar minyak goreng di RI.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mencatat bahwa sekitar 40% pangsa pasar minyak goreng di RI dikuasai oleh empat perusahaan besar. Hal ini berdasarkan data Consentration Ratio (CR) yang diungkap KPPU.

Perusahaan tersebut juga memiliki usaha perkebunan, pengolahan CPO, hingga produk turunan CPO seperti minyak goreng.

 

Baca Juga: Hasil Temuan KPPU: Harga Minyak Goreng Tak Ikuti CPO

Permasalahan minyak goreng di RI hingga saat ini belum selesai secara tuntas. Di mana, minyak goreng masih langka di beberapa tempat seperti pasar dan retail, serta harga minyak goreng yang melonjak.

Lonjakan harga minyak goreng yang terjadi akhir-akhir ini, dilihat adanya indikasi yang mengarah pada kartel. Akan tetapi, ini masih harus dibuktikan.

 

Baca Juga: Para Konglomerat Minyak Goreng RI, Anthony Salim hingga Sukanto Tanoto! Ada yang Punya Harta Rp121 Triliun

Adapun kartel minyak goreng dapat dilihat saat sejumlah perusahaan besar industri minyak sawit menaikkan harga bersamaan.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengungkap harga minyak goreng di Indonesia tidak mengikuti harga minyak sawit mentah atau CPO internasional. Deputi Kajian dan Advokasi KPPU RI Taufik A mengungkapkan harga CPO internasional fluktuatif tergantung dengan pasokan dan permintaan.

Sementara harga minyak goreng nasional cenderung dalam tren naik dalam jangka waktu yang panjang tanpa ada penurunan.

"Hasil temuan kami terjadi rigiditas pasar minyak goreng terhadap harga CPO. Fluktuasi harga CPO di pasar internasional mengikuti pasokan dan permintaan di pasar internasional, tapi harga minyak goreng di pasar domestik relatif stabil dan cenderung naik jadi sangat berbeda pergerakannya," kata Taufik, Selasa (1/3/2022).

 

Bahkan pada beberapa waktu terjadi penurunan dalam terhadap harga CPO internasional, namun harga minyak goreng di dalam negeri tetap dalam tren naik.

Taufik menjelaskan hal tersebut terjadi lantaran pasar minyak goreng di Indonesia terkonsentrasi atau terjadi oligopoli yaitu hanya segelintir perusahaan yang menguasai pasar sehingga harga ditentukan oleh produsen yang dominan tersebut.

"Berdasarkan data yang kita miliki memang struktur pasarnya terkonsentrasi, istilahnya oligopoli. Jadi ini menjadi concern bagi KPPU sendiri dan ini akan berdampak pada pembentukan harga di pasar," kata dia. Terjadinya rigiditas harga minyak goreng terhadap harga CPO yang fluktuatif juga merupakan salah satu ciri oligopoli.

Selain itu Taufik juga mengemukakan adanya akuisisi atau pengambilalihan aset perusahaan kelapa sawit yang dilakukan oleh perusahaan besar terhadap perusahaan sawit kecil.

Sementara itu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) didesak oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk menyelidik dugaan adanya kartel yang sebabkan kelangkaan minyak goreng.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menyebut adanya dugaan kartel dan oligopoli dalam bisnis minyak goreng.

Sehingga, minyak goreng sempat mengalami kelangkaan pada beberapa hari lalu.

"YLKI terus mendesak KPPU untuk mengulik adanya dugaan kartel dan oligopoli dalam bisnis minyak goreng, CPO, dan sawit," ujar Tulus dalam keterangannya, Jumat (28/2/2022).

Sebagai informasi, minyak goreng kemasan sederhana hingga premium sempat langka di pasaran baik di pasar modern, ritel modern, ritel tradisional, juga pasar tradisional.

Hal itu terjadi saat pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi minyak goreng.

Di mana, Rp14 ribu per liter untuk kemasan premium, Rp13.500 per liter untuk kemasan sederhana, dan Rp11.500 per liter untuk minyak goreng curah.

Tapi, saat HET itu dicabut pemerintah, minyak goreng kemasan premium dan sederhana tiba-tiba banjir di pasaran dengan harga di kisaran Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per liter.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini