Share

Harga Sewa Rumah di AS Kian Mahal! 2 Kamar Tidur Dipatok Rp40 Juta, Diaspora Menjerit

Rabu 30 Maret 2022 07:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 30 470 2570066 harga-sewa-rumah-di-as-kian-mahal-2-kamar-tidur-dipatok-rp40-juta-diaspora-menjerit-muFGRiQcXv.jpg Tarif Sewa Rumah dan Apartemen di AS Meningkat. (Foto: Okezone.com/Freepik)

 JAKARTA - Tarif sewa rumah dan apartemen meningkat di Amerika. Banyak penyewa dengan terpaksa terus merogoh uang tabungan atau telat membayar dan berisiko diusir karena bantuan dari pemerintah telah berakhir tahun lalu. Diaspora Indonesia pun bersikap ‘nrimo’ situasi itu.

Sewa properti di 50 wilayah metro terbesar di Amerika rata-rata naik 19,3% dari Desember 2020 hingga Desember 2021. Analisis Realtor.com menyebutkan, kenaikan itu untuk properti dengan dua kamar tidur atau kurang.

Miami, Florida, mencatat kenaikan lebih besar daripada wilayah lain. Tarif sewa rata-rata di sana naik menjadi USD2.850 (setara Rp40,8 juta) atau 49,8% lebih tinggi dari tahun lalu. Kota-kota lain di Florida - Tampa, Orlando dan Jacksonville dan San Diego di California, Las Vegas di Nevada, Austin di Texas, dan Memphis di Tennessee, juga mengalami lonjakan lebih dari 25% dalam periode tersebut. Kenaikan signifikan juga terjadi di wilayah Washington, DC.

Baca Juga: Sejarah Buktikan Kenaikan Harga Komoditas Dorong Penjualan Properti

Harsoeki Rubianto salah satu penyewa hunian tersebut memilih bertahan. Dia mengaku sudah puluhan tahun tinggal dalam apartemen satu kamar tidur dengan satu kamar mandi yang terletak di pusat kota, sekitar 100 meter dari kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia.

“Di sini (penyewa apartemen) enaknya tidak membayar listrik, tidak bayar air, ini, itu. Enak,” tukasnya, dikutip dari VOA Indonesia, Rabu (30/3/2022).

Harsoeki membeberkan kemudahan yang didapat dengan tinggal di pusat kota, antara lain, kemudahan akan angkutan umum dan jarak tempuh yang lebih singkat untuk kemana pun. Bila ditotal, ia mengatakan, justru apartemen di pusat kota jauh lebih murah.

Sebagai penghuni lama, dia membayar sekitar 20% lebih rendah dari apa yang dibayarkan penyewa lain umumnya.

Baca Juga: 19 Juta Orang Diterima Kerja di Industri Properti

Kenaikan tarif sewa setiap tahun, tidak merisaukan Harsoeki. Dirinya bisa menerima karena harga sewa tempat tinggalnya jauh lebih rendah dibandingkan harga sewa di apartemen lain di sekitarnya yang lebih mahal karena baru dan mewah.

“Kenaikan rata-rata tiga persen. Itu wajar, mengikuti kenaikan gaji,” katanya.

“Aku mau (cari) sewa yang lain, sayang banget toh, wong sewanya murah. Di sini sajalah,” tambahnya.

Faktor lain yang membuatnya bertahan, pemilik dan manajemen, yang sudah berkali-kali ganti, memperhatikan penyewa dengan secara berkala memperbarui barang-barang dan responsif kalau ada keluhan.

Departemen Tenaga Kerja pada pertengahan Februari lalu mengatakan bahwa tahun ini biaya sewa naik 0,5% pada Januari dibandingkan pada Desember. Kenaikan itu tampak kecil, tetapi merupakan yang terbesar dalam 20 tahun, dan kemungkinan akan terus naik.

Sementara itu, Yudi Sutrisno memilih keluar dari apartemennya dua tahun lalu di Maryland, di tengah pandemi, ketika biaya sewa melampaui USD2.000 untuk dua kamar tidur besar dan dua kamar mandi.

Dia kini mengorbankan kenyamanan dalam apartemen yang lebih kecil dengan dua kamar tidur dan satu kamar mandi, di negara bagian yang sama, demi tarif yang 20% lebih murah.

“Dan kita masih bisa lebih saving money,” ujarnya.

Menurut Yudi, di kawasan metro Washington, DC, kenaikan tarif sewa properti diatur pemerintah dan dibatasi antara dua dan lima persen setiap tahun. Pada masa pandemi, kenaikan terus terjadi tetapi Yudi tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima situasi itu.

“Selama masih standard, kita masih terima. Daripada kita tidak terima, kita pindah ke tempat lain, tiba-tiba mungkin lebih mahal atau butuh waktu dan tenaga untuk pindah ke tempat lain, itu juga makan biaya kan? Pindah sekolah, harus new administration, anak juga beda lagi temannya, itu salah satu hal yang perlu banyak dipertimbangkan,” imbuh Yudi.

Para ekonom khawatir, kenaikan itu memengaruhi inflasi karena biaya itu masuk indeks harga konsumen di Amerika, yang digunakan untuk mengukur inflasi.

Dengan kenaikan yang sangat tinggi, Boston nyaris mengambil alih San Francisco sebagai pasar sewa termahal kedua. Seorang penduduk, Jonathan Berk, secara guyon menawarkan sewa igloo USD2.700/bulan.

“Pemanas/air panas tidak termasuk,” cuitnya.

Para ahli mengatakan banyak faktor yang mendorong biaya sewa naik tinggi, termasuk kurangnya jumlah rumah secara nasional dan langkanya tempat sewa, sementara kebutuhan terus naik karena orang dewasa muda kembali memasuki pasar kerja dan membutuhkan tempat tinggal.

Secara nasional, Ketua Ekonom Realtor.com Danielle Hale memperkirakan, biaya sewa akan terus naik tahun ini, tetapi lebih lambat, dengan semakin banyaknya pembangunan. Menurutnya, sewa akan naik 7,1% pada 2022.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini