Share

Tarif PPN di RI Naik Jadi 11% saat Harga Komoditas Melonjak, Bagaimana dengan Negara Lain?

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis · Kamis 07 April 2022 19:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 07 320 2575144 tarif-ppn-di-ri-naik-jadi-11-saat-harga-komoditas-melonjak-bagaimana-dengan-negara-lain-VqhpCPNZuI.jpg Ilustrasi Pajak. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Pada awal April 2022 pemerintah resmi mengimplementasikan kenaikan tarif pajak menjadi 11% dari sebelumnya 10%.

Ekonom senior Faisal Basri pun menyoroti kebijakan pemerintah yang justru memilih kekeh menaikan PPN menjadi 11% meski situasi global yang sedang memanas akibat perang Rusia - Ukraina.

Faisal menceritakan bahwa pada situasi sulit seperti ini negara tetangga seperti Malaysia justru memberikan relaksasi pajak kepada rakyatnya bukan malah menaikan.

 BACA JUGA:Kena PPN, Sri Mulyani Pajaki Penyaluran LPG Non Subsidi! Ini Hitung-hitungannya

"Setiap negara mencoba untuk meredam semaksimal mungkin yang dia bisa, misal di Malaysia, di malaysia meredam kenaikan harga BBM adalah menerapkan on n off PPN," kata Faisal Basri dalam diskusi Publik secara virtual, Kamis (7/4/2022).

Sehingga menurutnya, di Malaysia jika harga minyak bumi di dunia sedang tinggi dan berpengaruh terhadap harga BBM di dalam negeri, maka pemerintah tidak memberika pajaknya.

Begitu sebaliknya, jika harga minyak dunia sedang turun, maka pemerintah akan kembali mengenakan kepada masyarakat.

Sedangkan dalam situasi yang sama, saat harga minyak bumi sedang tinggi Indonesia berbeda mengambil kebijakan, yaitu menaikan pajak 11%.

"Jadi sekarang kalau di Malaysia itu kita beli bensin tidak pakai PPN, tapi kalau di Indonesia pemerintah sudah naik harga, tambah naiknya biar rasa tuh rakyat, gitu kita-kira, dengan menerapkan PPN 11%," tambahnya.

 BACA JUGA:Dirjen Pajak soal Tarif PPN Naik Jadi 11%, Bakal Dievaluasi?

Selain itu, Faisal juga mencontohnya kebijakan yang juga dilakukan oleh negara lain untuk menghadapi krisis dengan menyiapkak dana stabilisasi oleh negara.

"Jadi kalau harga minyak bumi turun 50%, harga BBM turunya cuma 25%, yang 25% masuk di celengan, itu akan digunakan lagi kalau harga melonjak, sehingga harga BBM tidak setinggi harga minyak," lanjutnya.

"Pada dasarnya hal tersebut berfungsi untuk mengurangi folatilitias harga dari waktu ke waktu yang memang selalu terjadi sejak dahulu," tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini