Share

RI Serius Ciptakan Blue Economy, Apa Itu?

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis · Senin 18 April 2022 13:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 18 320 2580817 ri-serius-ciptakan-blue-economy-apa-itu-uyKGVDWGPX.JPG Ilustrasi Blue Economy, (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan tengah melakukan pembahasan untuk mengoptimalkan kawasan pesisir dan laut dalam berkontribusi menurunkan emisi karbon.

Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar mengatakan wilayah pesisir memiliki potensi yang cukup besar untuk menyerap emisi karbon yang di keluarkan oleh masyarakat setiap harinya.

"Ekosistem pesisir itu meliputi mangrove, rawa payau, dan lain-lain menjadi faktor penting yang kita identifikasi untuk memitigasi perubahan iklim," ujar Menteri LHK dalam acara workshop blue carbon, pembangunan blue economy dan pencapaian target NDC, Senin (18/4/2022).

 BACA JUGA:Pulihkan Ekonomi, Menko Airlangga Kejar Investasi di Bidang Green dan Blue Economy

Menurutnya, potensi penyerapan karbon yang cukup besar itu juga memiliki potensi tersendiri dari sisi ekonomis, seperti yang saat tengah dibahas bersama KKP sebelum siap di implementasikan.

Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, Hartono Prawiraatmadja mengatakan menjelaskan kandungan karbon yang terdapat pohon mangrove tergolong tinggi, sehingga menjadi bagus untuk di budidayakan.

Misal dari sisi ekonomi sebetulnya juga memiliki potensi yang cukup besar untuk menjadi sumber pemasukan baru.

"Selama ini itukan lingkungan itu tidak ada nilainya, maka orang cenderung hanya nge-push produksinya, tidak memikirkan aspek lingkungan," sambungnya.

Hartono menjelaskan setidaknya terdapat 3 core dalam hal pengembangan blue carbon dan blue economy, seperti mangrove, Padang lamun, terumbu karang, dan rawa payau.

Ketiga hal tersebut kedepan akan dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menjadikan sumber pendapatan baru.

Mengukur berapa berapa banyak karbon yang bisa diserap, lalu industri yang mengeluarkan karbon dengan melebihi kapasitas akan diwajibkan membayar karbon yang terserap.

 BACA JUGA:RITECH EXPO 2021 Usung Tema Digital, Green, and Blue Economy

"Sumber penghasilan alternatif adalah dari perdagangan karbon, mangrove itu kandungan karbonnya rata-rata 500 sampai 950 ton per hektar," katanya.

"Misalnya kedepan ada perusahaan pembangkit listrik menggunakan batu bara mengeluarkan emisi, dan emisinya melebihi, dia ada kewajiban untuk membayar, membayarnya itu ke mangrove," tambahnya.

Meski demikian saat ini dikatakan Hatono masih dalam tahap diskusi dengan berbagai pihak.

"Targetnya tahun ini bisa di implementasikan, berat pekerjaan ini," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini