Share

Saran Kemenko Perekonomian soal Pelabelan BPA pada Galon Isi Ulang

Feby Novalius, Okezone · Jum'at 03 Juni 2022 17:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 03 320 2605177 saran-kemenko-perekonomian-soal-pelabelan-bpa-pada-galon-isi-ulang-274k2HRkD2.jpg Pelabelan BPA pada Air Galon. (Foto: okezone.com/Odyssey)

JAKARTA - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian meminta BPOM merevisi Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. Hal ini karena masih terdapat perbedaan pandangan dari berbagai pemangku kepentingan terkait urgensi penerbitan pelabelan “berpotensi mengandung BPA” pada air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC).

Menurut Asdep Penguatan Pasar Dalam Negeri Kemenko Bidang Perekonomian Evita Mantovani, langkah itu perlu dilakukan setelah mendengarkan hasil Focus Group Discussion (FGD) yang diinisiasi Kemenko Perekonomian pada 27 Januari 2022 lalu dengan menghadirkan seluruh stakeholder.

Ada tiga solusi alternatif yang diputuskan dalam FGD terkait pengaturan label “berpotensi mengandung BPA” pada galon guna ulang ini. Pertama, agar disusun sebuah pedoman teknis penggunaan kemasan mengandung BPA yang benar dan meningkatkan edukasinya ke masyarakat.

Baca Juga: Viral Galon Isi Ulang Mengandung Zat Berbahaya, Cek Faktanya

“Artinya, perbaiki saja SOP teknisnya seperti bagaimana cara mengangkut, menyimpan agar jangan sampai terpapar panas matahari, berapa lama waktu penyimpanan. Jadi, yang lebih ditingkatkan itu pedoman teknis dan literasi edukasi ke masyarakatnya,” katanya, Jumat (3/6/2022).

Solusi kedua, parameter BPA itu dimasukkan saja dalam syarat mutu SNI AMDK yang berlaku wajib. Menurut Evita, ini masih dalam tahap diskusi.

“Kalau sekarang ini kan mengenai kewenangan, BPOM itu terkait dengan pangan dan SNI itu letaknya di Kementerian Perindustrian. Tapi, bukan hal yang tidak mungkin untuk bisa disatukan atau disinergikan nantinya,” tukasnya.

Baca Juga: BPOM Perlu Memperjelas Keamanan Kategori Galon Isi Ulang yang Beredar

Kemudian yang ketiga, semua AMDK yang berbahan polikarbonat maupun non polikarbonat yang memenuhi ketentuan migrasi BPA dan limit of detection dapat memasang label yang AMDK tersebut aman dikonsumsi.

“Artinya, kalau mau, ya dua-duanya (bahan polikarbonat dan non polikarbonat) dilabelkan dengan sebuah pelabelan yang tidak menggiring menjadi tekanan psikologis dari konsumen, tapi memang keduanya ini memang membangun posisi aman yang dikonsumsi,” ucap Evita.

Dia mengatakan Kemenko Bidang Perekonomian mendudukkan segala masalah lintas kementerian/lembaga maupun yang berhubungan dengan masyarakat banyak, yang mana pada titik itu terdapat sebuah isu permasalahan seperti wacana pelabelan BPA pada galon guna ulang ini.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Menurutnya, Kemenko Perekonomian sesuai tugas dan fungsinya itu harus hadir secara objektif terkait kebijakan apa yang perlu diterbitkan atau diputuskan, sehingga pada implementasinya itu bisa berjalan secara efektif, efisien, juga tetap bisa mendukung kondisi ekonomi di dalam negeri.

“Jadi, yang melatarbelakangi dilakukan FGD pada 27 Januari 2022 lalu adalah adanya surat pada bapak Menteri Perekonomian kita di tanggal 9 November 2021, terkait adanya surat dari Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan atau Aspadin yang menyampaikan keberatan pada pengaturan pelabelan bisphenol A (BPA) untuk AMDK galon guna ulang berbahan PC,” tuturnya.

Sebelumnya, Jagat media sosial dihebohkan dengan postingan tentang air kemasan galon isi ulang yang mengandung zat berbahaya sehingga menjadi viral di Twitter.

Seperti postingan dari akun @negativis*** yang mengunggah sebuah foto kemasan bertuliskan BPA Free V1-8 dengan kode nomer 5 bertuliskan Classic V2 28 oz serta mengklaim bahwa ini adalah foto produk air kemasan yang bebas BPA.

“Kapan ya kemasan minuman di negara kita ada label BPA Free kaya begini? Di negara lain dah diberlakukan, karena BPA ini bahaya bagi kesehatan,” tulis akun @negativis*** dikutip.

Twit ini juga di retweet oleh beberapa akun buzzer yang seringkali menyerang produk air kemasan galon guna ulang seperti wagim** dan @hok** dan @hab***

Netzien lalu mencoba memverifikasi tweet ini dan menemukan bahwa foto tersebut adalah potongan gambar botol tumbler (termos) minuman berukuran kurang dari 1 liter, dan bukan foto produk minuman kemasan galon yang dikatakan.

Dari pencarian yang dilakukan, ternyata gambar bebertuliskan Classic V2 28 oz ini bukan kemasan air minum namun botol termos yang memiliki kode nomor 5. sedangkan galon guna ulang yang berbahan PC memiliki kode nomor 7.

Pegiat Literasi yang juga Co-founder REDAXI (Indonesian Antihoax Education Volunteers), Astari Yanuarti mengatakan, serangan negatif ini menggiring ke perang opini di twitter atau twitwar, pemilihan topik yang disengaja untuk menyampaikan pesan terselubung.

“Twitwar bisa berulang, terutama jika topiknya memang sengaja diciptakan seperti topik galon BPA ini,” ujarnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini