Berdasarkan sejarahnya, G20 dibentuk dari G7 pada awalnya. Desain agendanya berasal dari situasi yang tidak ada perang.
"Sekarang tugasnya adalah menyelaraskan agar tema G20 tetap relevan sementara kita bisa mengantisipasi dampak dari perang. Desainnya sebelumnya tidak ada perang, karena ada perang, bisa relevan, tapi situasinya harus di-adjust. Tapi kalau kita bisa hentikan perang, berarti relevan. Masalahnya kita memaksa untuk menghentikan perang, tidak semua negara ada di G20. Makanya kita mendekati PBB dalam upaya mendorong berhentinya perang," ungkap Edi.
Melalui Sherpa Track, G20 mencari konsensus penyelesaian dari dampak krisis karena dampak perang, baik dari sektor pangan dan energi. Dia juga menyebutkan bahwa perang itu berbeda dengan bencana alam.
"Bencana alam, berhentinya kita tidak bisa prediksi, tapi perang sebenarnya bisa. Maka peran kita sekarang adalah menyampaikan seruan berhenti perang seperti yang sudah disuarakan pula oleh G7," pungkas Edi.
(Taufik Fajar)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.