Share

Menko Airlangga Ungkap 5 Tantangan Besar RI Usai Pandemi Covid-19

Michelle Natalia, Jurnalis · Senin 06 Juni 2022 18:26 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 06 320 2606656 menko-airlangga-ungkap-5-tantangan-besar-ri-usai-pandemi-covid-19-Z7UvsJOKYX.jpg Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto: Kemenko Perekonomian))

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa ketika pandemi Covid-19 usai, Indonesia masih akan menghadapi tantangan berat ke depannya.

Tantangan-tantangan tersebut adalah 5C, yang telah diimbau oleh Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dia menilai bahwa dengan adanya tantangan 5C ini, perekonomian kedepannya justru tidak menjadi semakin mudah.

"Yang jadi tantangan pertama adalah tailwind atau angin terakhir dari pandemi COVID-19. Saya mengapresiasi Banggar DPR karena telah responsif menyetujui anggaran Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) hingga Rp1.895,5 triliun selama tiga tahun mulai tahun 2020 hingga 2022," ujar Airlangga di DPR, Senin (6/6/2022).

Kemudian, tantangan kedua adalah krisis akibat perang Rusia-Ukraina yang kemudian berdampak besar kepada harga komoditas energi, pangan, dan keuangan global.

"Di sini nanti juga berlanjut pada tantangan ketiga, yaitu krisis berikutnya, climate change. Kita sekarang masih musim hujan tapi ke depan kemarau ini akan panjang," ucapnya.

Sementara itu, tantangan keempat, sambung Airlangga, adalah kenaikan harga komoditas mulai dari energi hingga pangan yang diperkirakan akan terus terjadi sampai pertengahan tahun depan.

"Tantangan terakhir adalah cost of living atau gejolak inflasi. Itulah 5C yang menjadi tantangan ke depan dan akan menghadang perekonomian dunia," ungkap Airlangga.

Maka dari itu, sambung dia mengatakan, fokus pemerintah mulai tahun depan adalah menangani isu krisis pangan, krisis energi, hingga krisis utang. Indonesia sendiri termasuk dalam kelompok Global Crisis Response Group (GCRG) yang dibentuk Sekjen PBB pada pertengahan Maret 2022.

"2023 KPC-PEN berhenti dan dilanjutkan dengan GCRG. Jadi ini membantu Sekjen PBB dalam penanganan krisis energi, krisis pangan dan krisis utang," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini