Sebuah pertaruhan
Ada beberapa alasan mengapa begitu banyak orang di seluruh dunia menghadapi persoalan akibat kenaikan biaya sewa tempat tinggal.
Di New York, London, dan kota-kota lain, banyak apartemen kosong saat penyewa mengakhiri masa sewa. Pada masa pandemi Covid-19, mereka memilih keluar dari aturan karantina wilayah menuju pinggiran kota yang lebih luas.
Populasi New York, misalnya, anjlok lebih dari 4% karena eksodus penduduk selama pandemi. Itu memicu penurunan harga sewa dan membuat tuan tanah berebut penyewa.
Pada akhir tahun 2020 dan awal 2021, banyak pemilik flat di New York menawarkan calon penyewa dengan berbagai keuntungan, dari pemotongan harga sewa bulanan, beberapa bulan gratis, hingga pembebasan biaya agen.
Beginilah cara Shea Long, seorang pengembang perangkat lunak, bertahan tanpa teman sekamar pada saat dia berusia 30 tahun.
Long pindah ke sebuah kamar tidur di tengah kota Manhattan awal tahun lalu. Dia membayar sewa USD2.150 (Rp31 juta) per bulan.
Long sadar, dia mendapat keuntungan dari gerakan para pemilik flat yang memberikan diskon di tengah pandemi demi mempertahankan penyewa pada eksodus keluar New York saat puncak pandemi Covid-19.
Pada April 2022, ketika Long masuk ke portal pembayaran online seperti biasa untuk mengirimkan uang sewa, sebuah pesan muncul: mulai Juni, dia wajib membayar sewa sebesar USD3.650 (Rp52 juta).
Harga sewa baru itu adalah kenyataan yang tentu saja tidak ingin dia hadapi. Meski begitu, Long merasa tidak punya pilihan selain bertahan, terutama setelah menghitung semua biaya pindah, uang jaminan baru, dan ongkos sewa bulan pertama.
Long juga ingin menghindar dari kecemasan yang intens akibat mencoba menemukan tempat tinggal baru yang tersedia. Jumlah flat yang tersedia di New York saat itu mencapai titik terendah sejak krisis keuangan tahun 2008.
"Melalui semua tekanan untuk pindah itu tidak layak dihadapi jika semua biaya itu hampir tidak lebih murah daripada kenaikan sewa 60%," katanya.
"Saat ini saya sedang mempertimbangkan untuk mencari teman sekamar lagi karena ini harga sewa ini menghabiskan tabungan pensiun saya yang berjumlah US$401.000 (sekitar Rp5,8 miliar)," ujar Long.
Kegundahan yang dihadapi Long dihadapi banyak warga New York, karena pindah ke flat yang lebih murah saat ini tidak sesederhana menjelajahi daftar properti yang disewakan.
Kondisi finansial dan logistik para penyewa kerap membuat mereka tidak dapat pindah, terutama jika tetap ingin tinggal di kawasan kota. Situasi itu menempatkan mereka pada posisi yang tak terhindarkan dan di luar kemampuan mereka.
Ini juga terjadi pada seorang penjualan berusia 29 tahun, Andy Ward. Dia pindah ke sebuah flat studio di kawasan Brooklyn tahun 2021. Dia harus membayar $2.100 per bulan (sekitar Rp30 juta), tapi mendapat satu bulan gratis sebagai insentif pandemi.
Namun pada April 2022, ketika mendapat email yang memintanya untuk menandatangani kontrak perpanjangan sewa, Ward disambut dengan berita bahwa dia sekarang harus membayar tambahan $400 (Rp5,7 juta) setiap bulan.
Sam Chandan, profesor keuangan di Universitas New York, sekaligus Direktur Center for Real Estate Finance Research, menyebut penyewa yang paling merasakan tekanan adalah mereka yang berada di perumahan tenaga kerja atau tempat tinggal terjangkau untuk guru, pemadam kebakaran, dan polisi.
Jadi mereka bukan cumatidak bisa tinggal di flat mereka saat ini, tapi mereka juga bisa dipindahkan ke luar kota. Di saat kehidupan kota besar selalu menguntungkan orang kaya, beberapa kalangan khawatir krisis ini dapat memaksa penyewa kelas pekerja keluar dari kota. Artinya, hanya kelas orang tertentu yang dapat tinggal di kota-kota besar.