Diketahui, Rusia sebagai produsen minyak nomor tiga terbesar di dunia.
"Selama ini Rusia memasok sekitar 11% dari kebutuhan minyak dunia. Dari pasokan ini, sekitar 4% digunakan untuk ekspor ke negara lain," katanya.
Akibat perang tersebut, Rusia dikenakan sanksi untuk tidak mengekspor minyak mentahnya.
"Kalau pun ada, tentunya tidak melalui mekanisme pasar wajar dan jumlahnya terbatas," tambahnya.
Menurutnya, terhenti ekspor minyak Rusia ini juga akan menjadi persoalan.
Karena tidak mudah untuk menghentikan produksi dari lapangan yang sedang berproduksi.
Sebab dalam banyak pengalaman, ketika sebuah lapangan dihentikan operasinya, selain butuh biaya mahal untuk memulai kembali kegiatan produksi, kemungkinan produksi minyak turun sangat terbuka. Ini yang menjadi tantangan Rusia saat ini.
"Sanksi yang dikenakan ke Rusia ini juga berakibat pada berkurangnya kegiatan drilling, tertundanya berbagai inisiatif atau project untuk menaikkan produksi dan berkurangnya akses terhadap peralatan dan teknologi," tuturnya.
"Dapat dibayangkan ketika nanti krisis Rusia-Ukraina berakhir, produksi minyak Rusia bisa anjlok sementara kebutuhan minyak meningkat, maka harga minyak dunia bisa lebih tidak terkendali lagi," tutupnya.
(Zuhirna Wulan Dilla)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.