Share

Negara Gagal Bayar Utang Bikin Investor Kabur hingga Inflasi Meroket

Bella Hariyani, Jurnalis · Rabu 22 Juni 2022 19:28 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 22 320 2616372 negara-gagal-bayar-utang-bikin-investor-kabur-hingga-inflasi-meroket-uXE0aYc82D.jpeg Penyabab krisis sri lanka (Foto: Freepik)

JAKARTA - Dampak pandemi Covid-19 mulai terasa, terlihat dari banyaknya negara kesusahan untuk membayar utang-utangnya. Terbaru adalah Sri Lanka yang tak sanggup melunasi utang hingga Rp732 triliun.

Akademisi dan praktisi bisnis Rhenald Kasali mengatakan, akhirnya dampak serius dari pandemi dirasakan saat ini. Di mana selama pandemi banyak negara harus mengambil utang dalam jumlah besar untuk membiayai perekonomian.

"Harus membeli obat-obatan,vaksin, vitamin dan menyuruh kita berhenti bekerja supaya kita tinggal di rumah, biasanya kita diberikan subsidi agar semakin produktif diciptakanlah proyek-proyek padat karya. Tetapi kemudian saat ini diciptakan kondisi agar kita tidak ke mana-mana demi menyelamatkan kelangsungan hidup," ujarnya dikutip dari YouTube Rhenald Kasali, Rabu (22/6/2022).

Namun dirasakan bahwa pandemi membuat produktivitas turun, pendapatan negara turun, pendapatan perusahaan turun, pariwisata terganggu, kemudian pendapatan di sektor-sektor terganggu. Satu per satu negara pun mengambil utang dan kemudian tidak mampu membayar cicilan utang tersebut.

"Dampak itu sudah dirasakan ketika kita mendengarkan berita yaitu, Sri Lanka dinyatakan bangkrut, mungkin ini adalah istilah yang hiperbola," katanya.

Tapi ketika Sri Lanka tak bisa membayar utangnya hal ini menjadi gawat. Pasalnya, kepercayaan dunia internasional terhadap negara bangkrut turun. Nilai mata uang pun turun, investor pindah, cadangan devisa turun hingga terjadi devaluasi akibatnya negara harus membayar segala sesuatu menjadi sangat mahal.

"Harga beras menjadi sangat mahal, harga energi semakin mahal, bahkan listrik mati, kemudian perusahaan-perusahaan meninggalkan negara tersebut. Jadi ini situasi gawat, investasi pindah, inflasi sangat tinggi dan negara beli beras dengan harga tinggi karena negara gagal jaga sistem produksi beras," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini